*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Jumat, 13 Februari 2015

MONUMEN DAN PATUNG DI JAKARTA (4)

16. PATUNG MOH. HOESNI THAMRIN
Patung Muhammad Hoesni Thamrin  yang berwarna emas ini diresmikan pada tahun 1987 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, R. Soeprapto. Terletak di Jl. Kenari II, Kel. Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat di pelataran Museum Mohammad Hoesni Thamrin. Sayang sekali keberadaannya kurang dikenal masyarakat umum karena letaknya tidak di tepi jalan besar, hanya orang-orang tertentu yang berkunjung ke museum itu saja yang mengetahuinya.
Muhammad Hoesni Thamrin adalah putra asli Betawi kelahiran Sawah Besar, Batavia, pada 16 Februari 1894 yang dianugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional oleh Presiden Soekarno pada 29 Juli 1960, yang telah memperjuangkan nasib kaum Betawi melalui jalan politik sampai ke tingkat nasional.

17. PATUNG MOH. HOESNI THAMRIN
Patung Mohammad Hoesni Thamrin yang berdiri megah di persimpangan jalan yang bernama sama, yakni Jl. M.H. Thamrin dengan Jl. Medan Merdeka Selatan ini diresmikan pada 3 Juni 2012 oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Ing. H. Fauzi Bowo dalam rangka menyambut Hari Jadi Jakarta yang ke-485.
Patung berbahan perunggu karya pematung Ketut Winata ini memiliki tinggi 4,5 meter, berdiri di atas pondasi setinggi 2,5 meter. Patung ini memperlihatkan sosok seorang M.H. Thamrin yang adalah pentolan organisasi Kaoem Betawi dan pemimpin Parindra, sebagai politikus intelektual yang patut diteladani seluruh warga Indonesia. Banyak masyarakat Betawi yang menyebutnya sebagai ‘Pahlawan Betawi’.
Di depan pondasi patung ini, terdapat dua pelat berwarna emas. Pelat di atas terdapat tulisan “Rasa keadilan yang dibangun dewasa ini sangatlah sulit untuk dicari…. Kepercayaan kepada keputusan pengadilan termasuk salah satu sandaran utama negara yang sangat penting, tetapi dengan banyaknya keraguan terhadap kenetralan institusi pengadilan, pemerintah akan kehilangan salah satu pilar terkuat untuk memelihara kedaulatan hukum. (M.H. Thamrin, Handelingan Volksraad, 1930–1931)”.
Sedangkan pelat di bawah bertuliskan “Kekuatan daya pikir, ketajaman visi, dan kearifan jadi diri yang melatari Mohammad Husni Thamrin sebagai manusia Indonesia sejati menjadi ciri sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mohammad Husni Thamrin…. Bunga bangsa putera Betawi…. Tidak lekang oleh zaman dengan ungkapan-ungkapan dan pandangannya hingga kini. (Jakarta, 22 Juni 2012, Fauzi Bowo, Gubernur Provinsi DKI Jakarta)”.

18. PATUNG DADA ISMAIL MARZUKI
Patung Ismail Marzuki berbentuk patung dada (bergaya torso) dengan bahan perunggu yang diletakkan di halaman depan dekat pintu masuk Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jalan Cikini Raya Jakarta Pusat ini dibangun bertujuan sebagai tanda peringatan atas jasa-jasa Ismail Marzuki kepada negara di bidang seni. Dia berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Atas jasa-jasanya itu, Pemerintah DKI Jakarta membuat patung peringatannya pada 1984. Patung Ismail Marzuki diprakarsai dan dibuat oleh Sanggar Seni ARSTUPA dibawah pimpinan Arsono.
Ismail marzuki dilahirkan 11 Mei 1914 di kwitang, Jakarta Pusat. Sejak kecil dia sudah pandai mengaji dan memainkan bermacam-macam alat musik. Cacatan sejarah hidupnya adalah lagu-lagu hasil ciptaanya yang sampai sekarang masih bisa dinikmati.
Selain komponis, Ismail Marzuki juga sangat suka akan pidato-pidato yang dibawakan Bung Karno, H. Agus Salim dan Muhammad Husni Thamrin. Dari pidato-pidato itulah jiwa pejuangnya menjadi tumbuh, untuk menyatukan diri dalam suatu pergerakan nasional.

19. PATUNG DADA CHAIRIL ANWAR
Pernah dengar puisi Karawang-Bekasi yang terkenal itu? Penyairnya adalah Chairil Anwar. Seorang pujangga terhebat di negeri ini, yang sangat piawai dan hebat dalam merangkai kata dan membuat puisi. Untuk memperingatinya pemerintah telah membangun patung dada sang pujangga di lapangan Monas, tepatnya di depan Mahkamah Agung. Meski hanya seorang seniman puisi, Chairil Anwar telah menularkan gairah semangat perjuangan kepada para pejuang melalui kata-katanya. Karyanya pun masih dikagumi oleh penikmat seni hingga sekarang.
Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949, dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi (kebanyakan tidak dipublikasikan). Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

20. PATUNG DADA DR. GSSJ RATULANGI
Patung dada DR. GSSJ Ratulangi berlokasi di halaman Gedung KRIS, Jl. Sam Ratulangi, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Patung ini dibuat untuk mengenang seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi Utara, DR. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi.
Lahir di Sulawesi Utara, 5 November 1890 dan meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949. Telah dinobatkan pemerintah RI sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut-sebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: "Si tou timou tumou tou" yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.
Sam Ratulangi memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat cemerlang serta brillian. Bahkan kepintarannya di bidang Matematika sudah tidak diragukan lagi. Ia dapat menghitung secara cepat tanpa bantuan alat penghitung (kalkulator). Pendapat-pendapatnya yang brilian sudah pernah mengemuka dan bahkan dibukukan. Tulisannya tersebut berisi tentang betapa pentingnya Indonesia Timur untuk jalur pedagangan di kawasan Asia Pacific. Bahkan peran Indonesia yang akan semakin penting sudah ia ‘ramalkan’ melalui bukunya “Indonesia in de Pacific” (tahun terbit 1937) yang mengulas dan mengupas masalah-masalah politik di seputaran negara-negara Asia yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik.

21. MONUMEN / PATUNG PERJOANGAN JATINEGARA
Lokasi Patung Perjoangan Jatinegara berada di ujung Selatan Jl. Matraman Raya, di sebuah area di tengah-tengah pertemuan Jl. Jatinegara Barat dan Jl. Urip Sumoharjo, persis di depan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Eukomunia (Gereja Protestan Jemaat Koinoia).
Monumen yang pembuatannya diprakarsai oleh Gubernur KDKI Jakarta Ali Sadikin ini tadinya akan dibangun di sekitar Viadek (viaducht) Jatinegara namun dibatalkan karena tempatnya yang tidak memungkinkan. Pembuatan patung memakan waktu 2,5 tahun dan baru diresmikan pada 7 Juni 1982 oleh Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo. Pembuatan patung dipercayakan kepada seorang pematung bernama Haryadi. Patung dibuat dengan bahan beton cor dan gips, dan pengecorannya dilakukan di Yogyakarta.
Monumen Perjuangan Jatinegara dibangun untuk mengenang peristiwa perjuangan rakyat pada masa perang kemerdekaan di wilayah Jakarta Timur, khususnya di wilayah Jatinegara, sebagai rangkaian perjuangan rakyat di daerah Pasar Jangkrik (Pasar Macan), Paseban, Kampung Melayu, Pulomas, dan daerah-daerah kecamatan lainnya di sekitar perbatasan antara Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.
Monumen ini dibangun dengan gaya realis berbentuk 2 sosok manusia yang berdiri tegak di atas landasan setinggi 3 meter. Patung yang menggambarkan seorang pemuda berpakaian seperti seragam tentara (Pejuang TNI) saat itu dan lengkap dengan sepatu bootnya berukuran tinggi 2,5 m, berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada sambil memeluk senapan, ransel dipunggung, dan pada pinggang terdapat pistol, granat, golok (bayonet), dompet serta tempat minum dengan ciri khas tentara. Disampingnya berdiri patung seorang anak laki-laki setinggi 1 m bercelana pendek, telanjang dada, tanpa alas kaki dan di lehernya bergantung ketapel.
Pada landasan berdirinya 2 patung itu tertempel prasasti bertuliskan “Patung Perjoangan Jatinegara. Diresmikan oleh Gubernur KDKI Jakarta, Tjokropranolo. Jakarta, 7 Juni 1982.” Dan satu prasasti lagi bertuliskan: “Tiada Sesuatu Perjoangan Yang Lebih Luhur Daripada Perjoangan Kemerdekaan" "Tidak ada sesuatu perjuangan yang lebih luhur daripada perjuangan untuk kemerdekaan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar