*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Jumat, 15 November 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (4)


MUSEUM NASIONAL


Museum Nasional atau Museum Gajah atau Gedung Arca, adalah sebuah museum yang terletak di Jakarta Pusat tepatnya di Jln. Merdeka Barat 12, diresmikan pada tahun 1868 oleh Persatuan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia, tapi secara institusi Museum ini lahir pada tahun 1778, saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda (sekarang Lembaga Kebudayaan Indonesia).
Museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara ini, hingga saat ini mengelola lebih dari 100.000  benda, yang dapat dikelompokkan dalam 7 jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismtik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi.
Patung Bhairawapatung dengan tinggi 414 cm adalah daya tarik utama museum ini. patung ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Buddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi.
Koleksi arca Buddha tertua di museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu disimpan dalam Ruang Perunggu dalam kotak kaca tersendiri. Sementara itu, arca Hindu tertua di Nusantara, yaitu Wisnu Cibuaya (sekitar abad ke-4 M) terletak di Ruang Arca Batu. Koleksi ini dipajang tanpa teks label dan terhalang oleh arca Ganesha dari Candi Banon.
Sedangkan koleksi lukisan yang terdapat di museum ini terdiri dari lukisan karya pelukis-pelukis Paris, antara lain; karya Kandensky, Zou Wuki, Georges Braque, Polk Lee yang terakhir dipamerkan tahun 1991 lalu.

Waktu kunjungan Museum: Selasa-Jum'at : 08.00 - 16.00; Sabtu-Minggu : 08.00 - 17.00; Senin dan hari besar nasional Tutup.
Harga tiket masuk, dewasa : Rp 5.000,- dan anak-anak : Rp 2.000,-
Untuk menuju ke lokasi Museum ini kita bisa menggunakan bus Trans Jakarta Koridor 1, 2A, 3A atau 6A dan berhenti di halte Monumen Nasional, atau dengan angkutan umum lainnya.


MONUMEN PROKLAMASI DAN PATUNG PROKLAMATOR SOEKARNO HATTA



Dihalaman rumah Soekarno (yang dikemudian hari menjadi Presiden RI pertama) Jl. Pegangsaan Timur no.56 Jakarta Pusat (sekarang Jl. Proklamasi) dibacakan untuk pertama kalinya naskah Proklamasi Kemerdekaan RI. Di lokasi ini kini berdiri Tugu Proklamasi atau Tugu petir untuk memperingati hari bersejarah proklamasi kemerdekaan RI. Pada kompleks Taman Proklamasi ini juga terdapat monumen dua patung Soekarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di antara dua patung proklamator ini terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.
Setelah era reformasi, selain menjadi tempat yang spesial untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI tiap tahunnya, lokasi ini pun menjadi tempat pilihan bagi berkumpulnya para demonstran untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya.
Lain halnya ketika sore menjelang. Pada hari-hari yang biasa, para penduduk yang tinggal tak jauh dari lingkungan taman ini kerap berkunjung ke Tugu Proklamasi untuk berbagai aktivitas. Tempat ini menjadi tempat favorit anak-anak bermain, arena berolahraga, tempat berkumpul dan bertemu, atau hanya untuk duduk-duduk saja menghabiskan sore hingga senja datang.
Untuk menuju lokasi, kita bisa naik Busway Koridor 4 dan 6B berhenti di halte Matraman dan disambung dengan jalan kaki, atau naik ojek atau bajaj.


MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI


Gedung berlantai dua bergaya Eropa Art Deco yang berlokasi di Myakodori no.1 (sekarang Jl. Imam Bonjol no.1 Jakarta Pusat), dibangun pada pertengahan 1920-an, menurut sejarahnya, awalnya adalah rumah yang digunakan konsul Inggris sampai tahun 1942, lalu menjadi kediaman duta besar Inggris (1950-1981), lalu dihuni oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda kepala Kaigun sampai tahun 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Dari 1961-1981 gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris. Pada tahun 1982 gedung ini digunakan sebagai kantor Perpustakaan Nasional.
Gedung yang menempati tanah seluas 3.914 meterpersegi ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia setelah terjadi peristiwa bersejarah pada 16-17 Agustus 1945, yakni dirumuskan dan ditandatanganinya naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan kita. Oleh karena itu pada tahun 1984, gedung ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Ruang pameran yang terdapat di Museum ini adalah sebagai berikut:
1. Ruang Pra-Proklamasi Naskah Proklamasi
2. Ruang Perumusan Naskah Proklamasi
3. Ruang Pengesahan/Penandatanganan Naskah Proklamasi
4. Ruang Pengetikan Teks Proklamasi

Jam Kunjungan:
Selasa - Kamis 08.00-16.00
Jumat 08.30-11.00; 13.00-16.00
Sabtu - Minggu 08.30-17.00
Hari Senin dan hari Libur Nasional tutup.

Tiket: Dewasa Rp 750 dan anak-anak Rp 250.


MUSEUM SEJARAH NASIONAL DAN MONUMEN NASIONAL


Museum ini adalah satu-satunya museum yang terletak 3 meter di bawah permukaan tanah, dibawah Tugu Monumen Nasional. Berukuran luas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang, dan lantainya secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.
Lebih lengkap baca di sini atau di sini.
Museum ini berlokasi di Jl. Silang Monas Jakarta Pusat. Untuk mencapai ke sana kita bisa berjalan kaki, atau naik kendaraan umum ataupun pribadi. Untuk Bus Trans Jakarta, bisa naik Koridor Koridor 1, 2, 2A, 2B, 3A, dan 6A.


MUSEUM SUMPAH PEMUDA


Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Museum ini adalah museum khusus yang memiliki koleksi foto dan benda-benda yang berhubungan dengan peristiwa Sumpah Pemuda serta kegiatan-kegiatan dalam pergerakan nasional kepemudaan. Di bangunan yang luasnya 460 meter persegi inilah Naskah Sumpah Pemuda untuk pertama kali dibacakan. Dan di gedung ini pernah tinggal beberapa tokoh pergerakan, seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil dan Assaat dt Moeda.
Gagasan mendirikan Museum Sumpah Pemuda berasal dari pelaku Kongres Pemuda Kedua (1972), yang kemudian diresmikan dengan nama Gedung Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 dan pada 20 Mei 1974 Gedung Sumpah Pemuda kembali diresmikan oleh Presiden RI, Soeharto.
Koleksi dari museum ini antara lain: foto2 kegiatan organisasi pemuda, bendera2 organisasi, replika biola WR. Supratman, patung2 dada tokoh pemuda, perlenkapan pandu, jaket angkatan 1966, kursi lukisan, diorama, monumen persatuan pemuda, dan perlengkapan yang berhubungan dengan kegiatan kongres pemuda.
Museum buka untuk umum, Selasa - Jumat (08.00 - 15.00), Sabtu dan Minggu (08.00 -14.00), Senin dan hari besar nasional tutup.
Untuk sampai di Museum ini, kita bisa memakai kendaraan umum busway koridor 5, 7A dan 7B ataupun kendaraan umum lain.

Kamis, 07 November 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (3)



Masih di wilayah Jakarta Pusat, kita bisa bertandang untuk berwisata sejarah di museum-museum:


MUSEUM ADAM MALIK

Museum Adam Malik adalah sebuah bangunan berlantai dua beraksitektur model rumah peninggalan Belanda dengan dindingnya dipenuhi jendela dan kaca. Berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter, terletak di jalan Diponegoro 29, Menteng, Jakarta Pusat. Dulunya adalah rumah kediaman bekas wakil presiden RI ke 3, Adam Malik. Setelah beliau wafat, pihak keluarga memutuskan menjadikan rumah ini sebagai museum. Dan peresmiannya dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada 5 September 1985 tepat setahun setelah Adam Malik wafat. Pengelolaan museum ini dipercayakan kepada Yayasan Adam Malik.
Pada masanya, Museum Adam Malik merupakan museum swasta terbesar di Jakarta. Museum itu memiliki beragam koleksi, yang bisa dibagi dalam 13 jenis. Yakni lukisan non-Cina, lukisan Cina, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, dan fotografi.
Koleksi benda-benda arkeologis pun lumayan banyak. Diantaranya arca Ganesha, arca Bhima, benda prasejarah, arca Buddha Aksobhya, Lingga, Dewi Durga, dan Dewa Siwa. Koleksi yang dipandang adikarya adalah keramik Cina yang berasal dari Makassar dan situs Buni (Bekasi, Jawa Barat). Koleksi paling spektakuler adalah prasasti Sankhara yang diperkirakan berasal dari abad ke-8.
Sayang sekali tahun 2000-an yayasan mulai keteteran untuk biaya operasional museum, sedangkan kucuran dana bantuan pemerintah untuk museum sudah distop. Maka pada tahun 2006, museum resmi ditutup dan bangunan itu dijual kepada pengusaha Harry Tanoe.
Menjelang ditutup, pihak yayasan pernah menawarkan koleksi museum ini ke pemerintah. Namun tak ada respons positif. Akhirnya, koleksi museum mulai dijual ahli waris sedikit demi sedikit, ke toko barang antik, ke kolektor sampai ke tukang loak.


MUSEUM JOANG 45
 
Sebuah gedung tua yang berlokasi di Jl. Menteng Raya no.31, Menteng, Jakarta Pusat, dibangun oleh LC Schomper tahun 1939 sebagai hotel yang diberi nama "Hotel Schomper". Hotel itu pada masanya merupakan hotel termewah di Jakarta, sebagai tempat persinggahan sementara bagi para pejabat Belanda dan pejabat pribumi yang datang ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai markas Seidenbu atau Jawatan Propaganda Jepang dan namanya berubah menjadi Gedung Menteng 31. Sejak Juli 1942 dijadikan tempat pendidikan politik para pemuda Indonesia dengan pembicara diantaranya adalah Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo, dan Achmad Subarjo. Dan yang memperoleh pendidikan politik diantaranya adalah Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi dan beberapa lagi lainnya yang kemudian dikenal sebagai Pemoeda Menteng 31.
Gedung ini berubah nama lagi menjadi Museum Joang ’45 terjadi pada tanggal 19 Agustus 1974, yang peresmiannya dilakukan oleh, ketika itu, Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Ali Sadikin.
Koleksi yang dimiliki oleh Museum Joang '45 diantaranya: berbagai benda bersejarah yang pada waktu itu digunakan oleh para pejuang Indonesia seperti peralatan perang, pakaian, bendera kesatuan laskar-laskar atau pataka-pataka, foto-foto tokoh Pemuda, koleksi Patung Dada para pahlawan, Diorama dan lukisan perjuangan sekitar 1945-1950, bahkan juga koleksi mobil dinas REP 1 dan REP 2 yang pernah dipergunakan oleh Bung KARNO dan Bung HATTA sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Selain itu ada juga film dokumenter Perjuangan 45 yang merupakan Arsip Nasional.
Museum Joang 45 terbuka untuk umum dalam aktivitasnya, pengunjung dapat mendaftarkan diri untuk dapat terlibat dalam aktivitas museum, seperti: Penyuluhan Permuseuman, Pameran dan Diskusi, Partisipasi Jabodetabek dan Dalam Daerah, dll.
Museum JOANG ini buka setiap harinya sejak Hari Selasa hingga Minggu. Mulai Pukul 09.00 Wib – 15.00 Wib. Tiket Masuk Museum cukup murah yaitu: Dewasa Rp. 2.000,-; Anak-anak Rp.600,- dan Mahasiswa  Rp.1.000,-
Untuk sampai di Museum Joang 45, kita bisa naik Busway koridor 2, 2A atau 2B, berhenti di halte Gambir. Dari sana tinggal jalan menuju arah Cikini. Stasiun terdekat adalah stasiun Gondangdia.

 
MUSEUM KATEDRAL
 
Museum yang terletak di balkon utama Gereja Katedral di jalan Katedral No.7B, Pasar Baru. Sawah Besar, Jakarta Pusat ini, dulunya digunakan sebagai tempat paduan suara gereja. Diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris, dan diresmikan pada 28 April 1991.
Benda-benda bersejarah koleksi museum ini diantaranya: Alat-alat Ibadat, Kasula, Patung-patung, Buku-buku, Lukisan dan Foto, Ruang Duduk, berbagai benda seperti : Organ, Relikwi delapan Santo anggota Sarikat Yesus, Vandel, Kaleng Misi, Alat Mati Raga, dll.
Museum Buka setiap hari Senin, Rabu dan Jumat
Pukul 10.00 – 12.00 WIB
Untuk sampai di museum ini kita bisa menggunakan busway koridor 5A dan 7A.


MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL
 
Bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda ini dibangun pada 1899. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda dipergunakan sebagai Sekolah Dokter Djawa dan sekolah kedokteran bumiputera yang lebih dikenal dengan STOVIA. Pendidikan kedokteran ini lalu dipindahkan ke Jalan Salemba (sekarang FK UI), dan bangunan STOVIA ini dijadikan asrama dan sekolah pendidikan lainya, seperti Sekolah Asisten Apoteker, MULO dan AMS.
Pada 1942-1945 pemerintahan Jepang yang berkuasa memfungsikan gedung ini sebagai tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda.
Setelah masa Proklamasi Kemerdekaan gedung ini dimanfaatkan sebagai tempat hunian bagi  bekas tentara KNIL Belanda  yang berasal dari Ambon beserta keluarganya.
Gedung STOVIA menjadi menjadi saksi bisu lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan, yaitu Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo (Jong Java), Jong Minahasa, Jong Ambon, dan lain-lain. Dan di gedung ini juga beberapa tokoh seperti Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo dan R. Soetomo pernah menimba ilmu.
Pada 20 Mei 1974 Presiden Soeharto meresmikan penggunaan Gedung Eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah yang diberi nama “Gedung Kebangkitan Nasional”.
Didalam gedung yang bernuansa Eropa tersebut, kita akan menjumpai beberapa ruang yang menyimpan sejarah penting Boedi Oetomo, Ruang Peragaan Persidangan Pembelaan dr. H.F. Roll, ruang Stovia dan ruang Peragaan Kelas Kartini. Di ruang STOVIA Anda akan menyaksikan sejarah masuknya kedokteran di Indonesia di mana ruang tersebut menyimpan alat-alat kedokteran masa lampau.
Anda juga akan bisa melihat-lihat senjata perang masa penjajahan seperti meriam milik VOC dan bambu runcing. Kemudian, ada replika kapal Portugis, Kapal Kolonial Belanda, kapal tradisional Bugis Pinisi dari Sulawesi Selatan. Lalu ada Patung R. Soetomo, salah satu pendiri dan ketua pertama perkumpulan Boedi Oetomo, Patung Ki Hajar Dewantara, Patung Maria Josephine Catherine Maramis (Maria Walanda Maramis). Selain itu ada pula koleksi perabotan, jam dinding, lampu antik, genta, foto, diorama dan lukisan.
Lokasi Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, Jakarta Pusat
Karcis masuk Rp.2.000 per orang.
Buka: Selasa – Jumat (08.30 – 15.00), Sabtu – Minggu (08.00 – 14.00). Senin dan Hari Libur Nasional tutup.


MUSEUM MOHAMMAD HOESNI THAMRIN

Museum MH Thamrin, awalnya adalah bangunan milik seorang Belanda bernama Meneer De Has yang dibeli oleh Mohammad Hoesni Thamrin dan kemudian dihibahkan untuk kepentingan kaum pergerakan kepada organisasi PPPKI (Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) karenanya gedung ini sempat dikenal sebagai Gedung Pemufakatan Indonesia.
Museum Husni Thamrin merupakan salah satu museum di DKI Jakarta yang dikhususkan untuk mengenang jasa pahlawan nasional Mohammad Hoesni Thamrin, seorang tokoh masyarakat Betawi yang dengan gagah berani, jujur dan terbuka mensuarakan kepentingan rakyat pribumi di dalam rapat-rapat Dewan Kota Praja yang dihadiri oleh sebagian besar kaum penjajah (Belanda) pada saat itu.
Museum MH Thamrin merupakan bangunan berarsitektur khas Betawi yang terdiri dari satu lantai dengan patung MH Thamrin tepat berada di depan musium. Di dalam musium terdapat koleksi saksi sejarah yang pernah digunakan oleh MH Thamrin antara lain: Foto-foto reproduksi Thamrin waktu kecil dan foto-foto tentang kiprah perjuangan tokoh Betawi ini dalam pergerakan nasional Indonesia, Foto-foto reproduksi suasana kota Jakarta pada zaman itu, Replika rapat di rumah MH. Thamrin, Radio yang digunakan untuk mendengarkan siaran dari dalam dan luar negeri, Kaca rias, Sepeda ontel kuno yang pernah digunakan oleh MH Thamrin, Meja makan, Materai, Alat musik khas Betawi, Bale-bale tempat pembaringan terakhir jenazah MH Thamrin, Lemari pakaian, Kursi, Piring hias, Blangkon dan Buku-buku kepustakaan naskah yang berisi tentang MH Thamrin dan pidato-pidatonya Thamrin di Volksraad.
Koleksi museum yang tak kalah penting lagi adalah sebuah biola WR Soepratman dan teks konsep lagu Indonesia Raja terdiri dari 6 bait karangan WR Soepratman. Memang di gedung inilah WR Soepratman memperkenalkan lagu gubahannya pada setiap kesempatan pertemuan kaum pergerakan, yang kini lagu itu telah menjadi lagu Kebangsaan Indonesia. Kemudian ada pula perangko Muhammad Hoesni Thamrin (1894-1941) senilai 250 sen dan perangko Abdul Moeis senilai 200 sen.
Akses jalan menuju museum ini agak sulit, karena letaknya yang berada di perkampungan penduduk, di Jalan Kenari II nomor 15, Jakarta Pusat, dimana di pintu masuk dari arah jalan Kramat Raya kita harus menembus kepadatan Pasar Kenari sebagai pusat bisnis peralatan elektronik yang semakin berkembang yang seakan menutup jalan menuju museum, hanya dengan jalan kaki atau kendaraan kecil yang dapat melewatinya.
Waktu kunjungan musium adalah setiap hari selasa sampai hari minggu dari pukul 09:00 WIB sampai pukul 15:00 WIB sedangkan untuk hari Senin atau hari besar nasional tutup. Untuk harga tiket masuk Dewasa dikenakan biaya Rp 2.000, sedangkan Mahasiswa dikenakan biaya Rp 1.000,- dan pelajar atau anak-anak dikenakan biaya Rp. 600,-.
Transportasi menuju Museum: Mikrolet M-01, jurusan Kp. Melayu – Senen, PPD 916 jurusan Kp. Melayu – Tanah Abang atau Busway Koridor 5, 7A dan 7B.