*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Jumat, 24 Januari 2014

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (8)


Di Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta bagian Selatan pun tersebar beberapa museum sejarah yang dapat dikunjungi oleh umum, diantaranya:

DIORAMA SEJARAH PERJALANAN BANGSA
Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa (DSPB) di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jl. Ampera Raya No. 7 Cilandak, Jakarta Selatan adalah pengungkapan proses perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa ke masa yang ditampilkan melalui perpaduan arsip, seni, dan teknologi modern. Pengubahan bentuk arsip menjadi karya seni dengan sentuhan teknologi ini dimaksudkan untuk memperkenalkan arsip kepada masyarakat dengan cara yang mudah dipahami dan menarik.
DSPB seluas 750 m² yang dibagi dalam delapan hall ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 31 Agustus 2009. Masing-masing hall menampilkan peristiwa-peristiwa pada masa tertentu. Hall C misalnya. Ketika memasuki ruangan itu, kita serasa dibawa menuju suasana yang bernuansakan pergerakan tokoh-tokoh pemuda yang diawali tahun 1908 hingga tahun 1928. Catatan sejarah dalam bentuk grafis ditampilkan pada panel-panel display yang ditempatkan pada dinding dan kolom. Naskah asli Sumpah Pemuda adalah salah satu materi yang dipamerkan. Di hall ini terdapat juga diorama dengan teknik penempatan mengambang atau biasa disebut floating diorama yang menggambarkan peristiwa Sumpah Pemuda.
Sementara di Hall D, para pengunjung dapat merasakan suasana detik-detik menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Representasi Ibu Fatmawati sedang duduk di depan mesin jahit tua dengan tangan yang memegang kain berwarna merah dan putih, sedangkan kakinya menggerakkan roda mesin jahit. Peristiwa pembuatan Sang Saka Merah Putih oleh Ibu Fatmawati tersebut ditampilkan bersama peristiwa dramatis lainnya yang terjadi di sekitar tanggal 17 Agustus 1945. Patung Bung Karno dan Bung Hatta yang sedang membacakan naskah Proklamasi juga menghiasi ruang pamer di Hall D tersebut.
Alat bantu/peraga pun tersedia dalam banyak kisah. Semisal, kisah salah satu pahlawan nasional, pencipta lagu Indonesia Raya, WR Soepratman. Di samping sejarah penciptaan lagu tersebut, di dinding telah di sediakan tombol tertutup keping CD dimana kita dapat mendengarkan lagu Indonesia Raya yang asli dengan 3 stanza, dan membandingkannya dengan lagu yang telah disederhanakan menjadi 2 stanza seperti yang berlaku saat ini.
Berbagai lagu nasional dapat diperdengarkan di sana. Hanya dengan menyentuh sebuah layar komputer yang disediakan, pengunjung dapat mendengarkan berbagai lagu nasional dan lagu daerah.
Kemudian patung 5 mantan presiden RI dari mulai Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur, Megawati Soekarno Putri hingga BJ Habibie dilengkapi dengan headphone dimana pengunjung dapat mendengarkan rekaman suara (pidato) masing-masing presiden menjadi satu dari sekian daya tarik berikutnya.
Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa buka untuk umum setiap hari: Senin hingga Jumat. Buka pukul 09.00 – 15.00 WIB, Sabtu dan Minggu dibuka pukul 09.00 – 13.00 WIB, harga tiketnya: Gratis bo..

MUSEUM AL-QUR’AN PTIQ
Museum PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an) adalah sebuah bangunan sebagai fasilitas tambahan dari pada instansi pendidikan Institut PTIQ yang berada di Jakarta Selatan. Berdiri sejak 1969, berlokasi di daerah Kebayoran Baru, setelah Institut resmi berdiri pada 1 April 1971 maka museum pun dipindahkan ke Institut ini.
Walaupun luasnya hanya sebesar ruang kuliah pada umumnya, namun banyak koleksi yang memiliki nilai histories yang luar biasa disana. Koleksinya berupa mushaf dari abad ke-15 yang masih ditulis tangan hingga masa kini yang sudah dicetak mesin, termasuk cetakan dengan huruf Braille. Bukan hanya di Nusantara, museum ini juga mengoleksi mushaf dari berbagai Negara, terutama di kawasan Timur Tengah, semisal duplikat mushaf yang merupakan lembaran-lembaran yang berasal dari zaman Usman bin Affan.
Lokasi: Jl. Batan I no.2 (Jl. Lebak Bulus Raya), Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan 12440.
Buka tiap hari: Senin-Jum’at (08.00-14.00 WIB).
Tiketnya: Gratis.

MUSEUM BASOEKI ABDULLAH
Koleksi Museum Basoeki Abdullah terdiri dari koleksi lukisan dan koleksi pribadi pelukis Basoeki Abdullah berupa patung, topeng, wayang, senjata dan sebagainya. Jumlah koleksi museum yang dihibahkan berdasarkan data yang ada sebanyak 123 buah, sedangkan koleksi pribadi (barang dan benda seni) milik Basoeki Abdullah sebanyak 720 buah, dan buku-buku/majalah + 3000 buah.
Museum Basoeki Abdullah melayani masyarakat dengan menggelar pameran, seminar, penelitian dan workshop, serta menerbitkan bermacam bentuk publikasi berupa katalog, biografi, kumpulan artikel, dan hasil penelitian dan dari serangkaian kegiatan yang lain.
Museum ini awalnya adalah rumah tinggal sang maestro pelukis ternama Indonesia Basoeki Abdullah yang pada tahun 1998 diserahkan kepada pemerintah RI melalui Dirjen Kebudayaan cq. Direktorat Permuseuman. Lalu bangunan rumah dua tingkat seluas + 600 m2 ini direnovasi untuk difungsikan sebagai museum, dan pada tanggal 25 September 2001 Museum Basoeki Abdullah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Drs. I Gede Ardika.
Museum Basoeki Abdullah sendiri memiliki sebanyak 123 koleksi lukisan yang terdiri dari 112 lukisan asli dan 11 lainnya merupakan hasil reproduksi.  720 buah benda seni yang terdiri dari topeng, wayang, senjata serta jas khas pelukis yang kerap digunakan oleh Basoeki Abdullah semasa hidupnya. Bagi yang gemar membaca, kita juga bisa melihat buku apa saja yang pernah menjadi jendela ilmu Basoeki. Ada ruang perpustakaan, dengan koleksi 3.000 lebih buku miliknya.
Lokasi: Jl. Keuangan Raya no.19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Waktu kunjungan: Selasa - Kamis (08.00 - 15.00), Jum’at (08.00 - 11.00), Sabtu - Minggu (08.00 - 11.30); Senin dan hari lilbur nasional tutup.
Tiket: Rp.2.000,- (kecuali jika sedang ada kegiatan workshop atau seminar seni, pengunjung akan dikenakan bayaran oleh panitia penyelenggara).

MUSEUM HARRY DARSONO
Bangunan bergaya Eropah yang terletak di Jl. Cilandak Tengah No.71, Jakarta Selatan, tepatnya di belakang Cilandak Town Square (Citos) ini merupakan satu-satunya museum fashion di Indonesia yang cukup langka keberadaannya. Disini kita dapat menyaksikan karya-karya perancang busana Harry Darsono, salah satu perancang busana papan atas di Indonesia dalam pelbagai media mulai dari kain, sepatu, keramik hingga sulaman kontemporer.
Baru masuk pun ke dalam museum, kita akan disuguhi kumpulan karya pribadinya Harry Darsono sejak tahun 1970-an. Mulai dari karya adi busana, koleksi art to wear, kostum panggung yang sudah go internasional, seperti pada pementasan pergelaran karya-karya Shakespeare, seperti Hamlet & Othello yang pernah ditampilkan di Woodbridge, Suffolk, Inggris (1980), serta Julius Caesar di Jakarta (1997). Terdapat pula gaun-gaun adibusana, seperti baju dan gaun pengantin dengan sulaman emas murni yang pernah dipesan oleh wanita-wanita bangsawan dunia, seperti rancangan khusus untuk Lady Diana yang dibuatnya pada 1980 dan rancangan untuk Ratu Rania, Ratu Yordania.
Setiap beberapa bulan sekali koleksi rancangan di Museum Harry Darsono sengaja di rotasi untuk selalu menciptakan koleksi yang segar dan beragam. Bagi anda yang ingin mengunjungi Museum Harry Darsono, diharuskan untuk reservasi terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk membatasi jumlah pengunjung agar pengunjung bisa menikmati koleksi rancangan Harry Darsono dengan leluasa.
Museum buka: Senin - Sabtu (10.00-12.00)

MUSEUM LAYANG-LAYANG
Museum Layang-layang didirikan pada tahun 2003, oleh penggemar layang-layang dan barang antik yang juga seorang pakar kecantikan, Ibu Endang Ernawati.
Museum terbagi menjadi 4 bangunan. Bangunan pertama adalah loket dan tempat menonton video. Bangunan kedua adalah tempat untuk membuat keramik / melukis keramik dan meluksi batik. Bangunan ketiga adalah tempat membuat layang-layang, melukis wayang sekaligus ruang pamer koleksi layang-layang, sedangkan bangunan keempat adalah tempat membeli souvenir.
Museum menyimpan koleksi layang-layang dari berbagai daerah di tanah air maupun dari mancanegara, mulai dari layang-layang tradisional, layang-layang modifikasi dan layang-layang olahraga.
Selain dari melihat-lihat, kita pun diajak oleh pemandu untuk mencoba membuat dan melukis layang-layang sederhana. Dan kalau cuaca bersahabat, kitapun bisa mencoba menerbangkan layangan buatan sendiri.
Lokasi; Jl. H Kamang no 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan
Jam buka: Selasa-Minggu (09.00-16.00 WIB). Senin dan libur nasional tutup
Tiket masuk: Rp.10.000,-


Transfortasi untuk sampai di Museum Layang-layang:
Dari Blok M naik metro mini 610 arah Pondok Labu. Turun setelah lewat RS. Fatmawati. Akan ada Plang “MUSEUM LAYANG-LAYANG” disebelah kanan jalan. Letak museum ini sekitar 500m dari plang tersebut.
Atau naik bus jurusan Lebak Bulus yang lewat Jalan Raya Fatmawati, turun di Jl Haji Kamang (sekitar 50 meter setelah SDN 01 & 05 Pondok Labu jika dari Utara, atau 50 meter sebelumnya jika dari Selatan). Lanjut naik ojek atau jalan kaki sekitar 375 m.
Atau jika dengan kendaraan pribadi, arahkan ke Rumah Sakit Fatmawati di Jalan Raya Fatmawati, lanjutkan ke Selatan sejauh 1,5 km ada jalan ke kanan 50 meter setelah SDN 01 & 05 Pondok Labu, belok kanan ke Jl Haji Kamang. Lanjut 375 m, Museum Layang-layang ada di kanan jalan.

MUSEUM POLRI
Gedung Museum berlantai tiga dengan desain bangunan tahun 70-an yang terletak di komplek Mabes Polri Jl. Trunojoyo no.3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini menawarkan penelusuran sejarah kepolisian Negara Republik Indonesia masa lalu hingga masa kini dalam tugasnya sebagai aparatur pemerintah pelayan, pelindung dan penegak hukum.
Ide pembangunan Museum dicetuskan oleh Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dengan tujuan melestarikan nilai-nilai kesejarahan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pewarisannya kepada generasi mendatang. Dan peresmiannya dilakukan oleh Presiden SBY pada 1 Juli 2009 bertepatan dengan HUT Kepolisian Negara Republik Indonesia (Hari Bhayangkara).
Dalam gedung di tampilkan foto dan dokumentasi serta benda-benda sejarah perjalanan Polri sejak perang kemerdekaan, masuk ke dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia hingga terpisah dari ABRI, dan menuju Polri mandiri dan profesional seperti saat ini, semua itu tersebar dalam beberapa ruangan yang memiliki fungsi dan keunikan masing-masing, seperti Ruang Koleksi dan Peristiwa, Ruang Sejarah, Hall of Fame, Ruang Kepahlawanan, Ruang Simbol dan Kesatuan, Ruang Penegakan Hukum dan ruang khusus buat anak-anak yakni Kids Corner.
Jam buka: Selasa – Minggu: 09.00 – 15.00
Tiket: Gratis.

MUSEUM REKSA ARTHA

Museum Oeang Republik Indonesia (ORI) "Reksa Artha" adalah museum sejarah yang dimiliki oleh Perum Peruri (Percetakan Uang Negara RI) yang terletak di Jl. Lebak Bulus No.1, Cilandak Jakarta Selatan. “Reksa” bermakna menjaga dan “Artha” berarti uang.
Bangunan museum ini awalnya adalah sebuah gudang tinta Perum Peruri.
Museum ini memiliki koleksi item bersejarah yang berkaitan dengan pencetakan mata uang Indonesia, Rupiah. Beberapa koleksi uang kertas dan logam Rupiah bersejarah dari masa kemerdekaan hingga era Orde Baru, printer uang abad ke-20, alat pencetak uang logam koin serta foto-foto bersejarah yang menceritakan beratnya perjuangan pencetakan ORI (Oeang Republik Indonesia)  pada masa lalu yang digunakan untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi pada awal kemerdekaan RI.
Dikarenakan Museum Reksa Artha adalah salah satu dari banyak museum di Indonesia dengan rendahnya jumlah pengunjung. Museum ini sering ditutup, karenanya untuk pengunjung sebelum datang bertandang ke harus mengadakan perjanjian dulu dengan pihak museum.
Waktu kunjung: Selasa-Kamis (09.00-15.00)
Tiket: Gratis

Jumat, 10 Januari 2014

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (7)

Di Kotamadya Jakarta Barat, ada beberapa museum yang bisa kita kunjungi, yakni : Museum Tragedi 12 Mei, Museum Lukisan Universitas Pelita Harapan, Gedung Arsip Nasional. Lalu di area Kawasan Kota Tua: ada Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Wayang.
Mari kita singgahi satu persatu:

MUSEUM TRAGEDI 12 MEI

Berlokasi di salah satu ruangan sisi kanan dari Gedung Sjarief Thayeb, Kampus A Universitas Trisakti, Jalan Kyai Tapa Nomor 1, Grogol, Jakarta Barat.
Museum ini berdiri untuk mengenang peristiwa Tragedi 12 Mei 1998 yang menewaskan 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti sebagai pejuang reformasi: Elang Mulia Lesmana (mahasiswa Arsitektur), Hendriawan Sie (jurusan Manajemen), Hery Hartanto (Teknik Mesin) dan Hafidhin Royan (Teknik Sipil).
Tragedi Trisakti berlatar belakang gerakan mahasiswa tahun 1998 dimana mahasiswa perguruan tinggi diseluruh Indonesia mengadakan kegiatan unjuk rasa dan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut reformasi, menutut Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Mahasiswa Universitas Trisakti sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia turut serta ambil bagian dari aktifitas tersebut. Pada mulanya mereka mengadakan mimbar bebas aksi damai, yang mencapai puncaknya dan berujung pada tragedi dengan gugurnya empat mahasiswa Universitas Trisakti tertembus peluru tajam serta puluhan lainnya luka. Kejadian ini memicu runtuhnya kekuasaan Orde Baru.
Koleksi yang terdapat dalam museum ini terdiri dari barang-barang pribadi keempat korban, diorama, dan foto-foto yang menceritakan dari aksi damai, orasi, dipukul mundur polisi, hingga peristiwa penembakan itu.
Untuk anda yang hendak melihat perjuangan Pahlawan Reformasi, bisa berkunjung pada hari Senin sampai Kamis di jam kerja. Anda dapat menggunakan kendaraan angkutan Bus TransJakarta Koridor 2B, 3, 3A, 8, 8A, 9 atau 9A.

MUSEUM LUKISAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN


Museum Universitas Pelita Harapan (MUPH) adalah pusat studi seni rupa yang berlokasi di Menara Matahari lantai 3 Jl. Boulevard Palem Raya No.7 Lippo Village, Tangerang. Sebagai bagian dari Universitas Pelita Harapan, museum dimaksudkan untuk memberikan nuansa dan pemahaman seni dalam kehidupan publik dan sarana untuk pengembangan pengetahuan dan apresiasi seni rupa Indonesia.
Koleksi yang dimiliki museum seluas 400 meter persegi ini, antara lain 880 lukisan karya pelukis Indonesia ternama dan pelukis asing yang melukis tentang Indonesia.
Sebut saja Raden Saleh, Affandi, A Sudjojono, Barli, Wakidi, AD Pirous, Widayat, Zaini, Srihadi Soedarsono, Agus Djaya, Trubus, Mochtar Apin, Sudjana Kerton, Ivan Sagito, But Mochtar, Hendra Gunawan, Dede Eri Supria, Nasjah Djamin, Walter Speis, R Bonnet, Willem Dooijewaard, JD van Herwerden dan sebagainya.
Museum yang dibuka resmi di Menara Matahari sejak 24 April 2000 (bertepatan dengan pembukaan Olimpiade Fisika Asia) ini tak sekadar memamerkan koleksi lukisan, tapi juga menyimpan koleksi buku-buku perpustakaan literatur asing tentang seni rupa, arsitektur, permuseuman, dan sejarah, serta katalog pameran lukisan di dalam dan luar negeri. Museum ini juga menyimpan database tentang perupa yang pernah dikenal di Indonesia.
Gagasan berdirinya museum ini pun berasal dari pengusaha sukses pemilik Grup Lippo, James Riady. Karena itu, tidaklah heran jika sebagian besar lukisan yang dipajang di museum ini sebelumnya koleksi milik keluarga pengusaha Mochtar Riady dan putranya James Riady, dan kini sudah dihibahkan untuk Museum Lukisan UPH.
Museum buka tiap hari Senin sampai Jumat, pukul 9 sampai pukul 4.
Untuk mencapai lokasi museum, anda dapat menggunakan bus Lippo Karawaci yang shuttle dengan jadwal waktu pasti (dari Grogol, Blok M dan Wisma Graha Citra Jalan Gatot Subroto).

MUSEUM BANK INDONESIA

Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum di kawasan Kota Tua Jakarta, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota), dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang didirikan pada tahun 1828.
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.
Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.
Museum Bank Indonesia buka setiap hari Selasa-Kamis (08.00-14.30), Jum’at  (08.30-11.00), Sabtu-Minggu (09.00-16.00). Senin dan hari libur nasional tutup.
Pengunjung tidak dipungut biaya sepeserpun, bila berkunjung ke sana, kecuali bayar naek busway Koridor 1 nya atau angkutan umum lain.

MUSEUM BANK MANDIRI

Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat dan merupakan salah satu bagian dari cagar budaya Kota Tua di Jakarta
Museum ini memiliki koleksi peralatan perbankan mulai dari masa penjajahan Belanda sampai dengan terbentuknya Bank Mandiri. Selain benda-benda koleksinya, Museum Mandiri memiliki ornamen unik pada dinding hall sisi timur bangunan museum, ornamen tersebut berupa hiasan kaca patri (stained glass) yang menggambarkan empat musim seperti musim yang terjadi pada kawasan Eropa dan tokoh nakhoda kapal Belanda, Cornelis de Houtman
Bangunan berarsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik yang berlantai empat seluas 21.509 m2 itu memiliki koleksi perlengkapan operasional bank tempo dulu yang unik, antara lain adalah peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal press, brandkast, safe deposit box dan anak kunci lemari / pintu besi maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham. Ornamen gedung , interior dan furniture asli dari gedung museum merupakan benda cagar budaya yang juga merupakan bagian dari koleksi Museum Bank Mandiri.
Awalnya bangunan Museum Bank Mandiri merupakan Kantor Wilayah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias maskapai Dagang Belanda yang lebih dikenal dengan nama de Factorij Batavia berdiri diatas lahan seluas 10.039 m2. Bangunan dirancang oleh arsitek NHM, J.J.J. de Bruyn bekerjasama dengan arsitek Belanda lainnya, A.P Smith dan C. van de Linde yang keduanya bekerja pada biro arsitek Hulswit, Fermont en Ed. Cuypers. Gedung ini mulai dibangun tahun 1929 dan diresmikan pada 14 Januari 1933, oleh C.J Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10. Setelah Indonesia merdeka, NHM dinasionalisasi (1960), kemudian berkembang menjadi Bank Exim dengan kantor pusat di Gedung Factorij.
Bank Exim pada tanggal 31 Juli 1999 merger dengan Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya dan Bank Pembangunan Indonesia menjadi Bank Mandiri (1999). Sejak 2005 Gedung Factorij difungsikan sebagai Museum Mandiri.
Bagi pengunjung yang kebetulan menjadi nasabah bank Mandiri, jangan lupa untuk membawa kartu ATM Bank Mandiri atau buku tabungan Anda untuk mendapatkan tiket masuk gratis.
Jam Kunjungan: Selasa-Minggu (09.00-16.00); Senin dan hari libur nasional tutup
Tiket: Dewasa Rp 2.000


MUSEUM FATAHILLAH

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum 2 lantai yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi berada dalam kawasan Kota Tua Jakarta.
Gedung ini dulu mulanya adalah sebuah Balai Kota (Stadhuis) yang dibangun tanggal 27 April 1626 saat pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) dan kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan baru selesai pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Tahun 1925-1942 gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 digunakan sebagai Markas Komando Militer Kota (KMK) I yang kemudian menjadi Kodim 0503 Jakarta Barat. Lalu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.
Koleksi dalam museum ini sebagian besar limpahan dari Museum Djakarta Lama, yang dulunya bernama Museum Batavia Lama (Museum Oud Batavia) dibawah naungan yayasan Oud Batavia yang menempati bangunan di Jl. Pintu Besar Utara no.27 (kini museum Wayang). Diantara koleksi itu antara lain perjalanan sejarah kota Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah dan batu prasasti.
Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Lalu ada koleksi yang patut diketahui masyarakat yakni Meriam si Jagur, sketsel, patung Dewa Hermes, pedang eksekusi, lemari arsip, lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, meja bulat berdiameter 2,25 meter tanpa sambungan, penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda. Diantara koleksi yang terdapat disana ada yang berusia mencapai lebih 1.500 tahun khususnya koleksi peralatan hidup masyarakat prasejarah seperti kapak batu, beliung persegi, kendi gerabah.
Untuk menjelajah museum, kita bisa meminta pemandu wisata untuk ditemani. Pemandu wisata telah bersiap menjaga di pintu masuk. Tetapi jika tidak mau dipandu, baiklah anda bisa mengikuti trik ini agar tidak salah alur, mulailah dari sebelah kanan pintu masuk, disitu banyak foto-foto yang menceritakan situasi kota Jakarta dari masa ke masa. Lalu berlanjut ke zaman pra sejarah. Di ruang berikutnya ada replika kapal-kapal. Keluar dari sisi sebelah kanan pintu masuk museum, lanjutkan penjelajahan ke sisi sebelah kiri pintu masuk. Disana, disambut dengan lukisan besar karya S. Sudjojono, ada replika gereja Belanda lama, replika klenteng serta maket kawasan Kota Tua pada masa lalu. Lalu bergerak ke ruangan lain, tempat dipajangnya senjata-senjata tradisional dari berbagai daerah. Lalu di ruang sebelahnya ada mimbar masjid yang telah berusia cukup tua. Setelah mengitari ruangan di lantai satu museum, sebelum naik ke lantai 2, kunjungi dulu taman belakang museum.
Waktu kunjungan: Selasa-Minggu (09.00-15.00); hari Senin dan hari besar tutup.
Tiket masuk cuman Rp.2.000 bagi pelajar, Rp.3.000 bagi mahasiswa dan Rp.5.000 bagi dewasa.
Untuk mencapai lokasi Museum Sejarah Jakarta, cukup mudah, jika menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan sarana transportasi Trans Jakarta koridor 1 rute blok M – Kota. Untuk angkutan kecil yang melewati wilayah tersebut yaitu mikrolet M12 jurusan Pasar Senen - Kota, M08 jurusan Tanah Abang - Kota, M15 jurusan Tanjung Priok - Kota, dan Patas AC 79 jurusan Kampung Rambutan - Kota.
Buat warge Jakarte aseli, nyok kite satronin museum ini biar tau sejarahnye nyak, babeh, ncang, ncing, ngkong lo, biar kagak buta tanah leluhur sendiri sebelum diduluin warge luar nyang ngerantau dan numpang idup di sini...!

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK

Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Jalan Pos Kota No 2, Taman Sari, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu dibangun pada 12 Januari 1870, awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI. Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta (20 Agustus 1976), kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
Museum ini menyajikan 500-an koleksi dari karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an sampai sekarang, sejak periode masa Raden Saleh sampai periode Seni Rupa Baru Indonesia sekarang, baik berupa patung, totem kayu, sketsa, dan batik lukis.
Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dengan ciri khas daerah masing-masing seperti dari sentra industri: Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok dll. Keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20. Terbanyak dari China terutama pada masa Dinasti Ming dan Ching.
Kelengkapan lain dari museum, adalah perpustakaan yang memiliki buku-buku seni rupa dan keramik yang bisa dijadikan panduan tentang seni rupa. Ada Studio Gerabah, tempat pelatihan, membuat gerabah untuk pelajar dan umum. Ada juga fasilitas umum lainnya seperti ruang pertemuan/aula, ruang terbuka/plaza serta taman, toko cinderamata,  musholla, lahan parkir yang cukup luas serta toilet.
Jam Kunjungan: Selasa-Minggu (09.00-15.00), Hari Senin dan hari besar tutup
Tiket: Dewasa Rp 2.000, Anak-anak/pelajar Rp 600.

MUSEUM WAYANG

Museum Wayang adalah sebuah museum di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Pinangsia, Jakarta Barat berlokasi di Kota Tua Jakarta. Diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada 13 Agustus 1975, berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru (De Nieuwe Hollandse Kerk) yang hancur oleh gempa bumi. Museum ini sebelumnya disebut sebagai Museum Batavia yang dibuka pada tahun 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda yaitu Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, dibangun 1912 dengan bergaya Neo Renaissance dan pada tahun 1838 dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah Belanda saat itu.
Koleksi museum saat ini kurang lebih 5.147 buah wayang yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera dan juga luar negeri antara lain Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggis, Amerika dan Thailand.
Jenis dan bentuk wayang yang dipamerkan seperti wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, wayang kaca, wayang seng, wayang intan, wayang suket, wayang beber, wayang revolusi, topeng, lukisan dan boneka-boneka dari luar negeri. Selain itu, juga dipamerkan perlengkapan seputar ‘perwayangan’ seperti alat penerangan untuk wayang kulit ‘Lampu Blencong’, gamelan, panggung, dll.
Di tengah gedung di lantai dasar terdapat Taman Museum Wayang. Disana terlihat beberapa prasasti peninggalan Belanda diantaranya Jan Pieterszoon Coen tahun 1634. Juga terdapat Ruang Punakawan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti : Seminar, Sarasehan, pergelaran, pertunjukan mini dll. Dan secara berkala Museum Wayang menampilan pertunjukkan pada pukul 10.00 – 14.00 setiap hari Minggu ke-2 (Pergelaran Wayang Golek) dan hari Minggu terakhir (Pergelaran Wayang Kulit)
Jam Operasional : Selasa – Minggu (09.00 – 15.00); Senin dan hari besar : Tutup
Tiket Masuk : Rp 2.000

GEDUNG ARSIP NASIONAL

Gedung Arsip Nasional adalah sebuah gedung yang dibangun pada tahun 1760 oleh gubernur jenderal VOC Reinier de Klerk, terletak di Jalan Gajah Mada no.111, Krukut-Taman Sari, Jakarta Pusat.
Menurut ceritanya, tahun 1900, ada rencana untuk membongkar gedung ini untuk dijadikan pertokoan, namun Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (perhimpunan Batavia untuk seni dan ilmu pengetahuan) berhasil melobi Pemerintah Hindia Belanda untuk membeli rumah itu. Mereka berhasil dan bangunan itu dijadikan Departemen Pertambangan pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga tahun 1925. Kemudian, gedung tersebut dijadikan Lands archief (arsip negeri), dan setelah Indonesia merdeka semua arsipnya dipindahkan ke gedung baru Arsip Nasional di Jalan Ampera (Gedung ANRI) pada tahun 1992. Namun meskipun sudah tidak menyimpan arsip lagi, nama gedung ini tetap Gedung Arsip Nasional.
Pada tahun 1994, para pengusaha Belanda di Indonesia Stichting Cadeau Indonesia (yayasan hadiah Indonesia) mengumpulkan dana untuk pemugaran rumah De Klerk ini untuk dijadikan sebuah museum sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50. Yayasan tersebut mengumpulkan dana untuk memugarnya dan menjadikannya sebuah museum. Pemugaran rampung awal tahun 1998.
Kini, gedung ini dikelola oleh yayasan tanpa bantuan dari pemerintah dan dijadikan tempat pameran. Kebunnya buka dari pukul 6.00 sampai 18.00. Penduduk setempat diajak memakai kebun tersebut sebagai sarana umum. Dan untuk pengujung tidak dipungut biaya.
Jam operasional: Selasa-Minggu (09.00-17.00); Senin tutup.
Untuk berkunjung ke sana anda bisa naik busway koridor 1.