*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Rabu, 19 Februari 2014

SELALU ADA PILIHAN

Selesai istirahat makan sehabis Jum’atan (17 Januari 2014), kami berdua awak BSS meluncur ke Jakarta Convention Center (JCC) yang berada di Senayan. Tidak seperti biasanya meluncur di jalur lambat karena jarak antara lokasi dengan Markas kami di Asem Baris hanya sekitar 10 km aja, namun kami lebih memilih menggunakan jalan tol dalam kota, karena jangankan di jalur lambat, di jalan tol pun agak tersendat saking banyaknya kendaraan yang ingin cepat2 nyampe di rumah masing2 atau tujuannya masing2 melihat langit Jakarta sudah diliputi awan hitam lagi, tanda akan segera turun hujan, mungkin akan gede lagi seperti hari-hari sebelumnya. Memang bulan-bulan ini Jakarta sedang diguyur hujan terus menerus, bahkan di beberapa tempat sudah dijabanin banjir.
Dalam keadaan macet begini, ada 2 buah mobil patroli polisi yang melintas disamping kami, memaksa untuk dikasih jalan sama kendaraan lainnya dengan raungan sirinenya.  Aha…. Sopir kami pintar memanfaatkan keadaan, secepat kilat kalau boleh dibilang, dia arahkan mobil kami jadi ‘ekor’nya 2 kendaraan aparat itu. Lumayan perjalanan kami jadi lebih lancar dalam membelah kemacetan kendaraan di jalur yang harusnya terhindar dari macet itu (ya… iya lah….. wong dibibuatkan jalan tol oleh pemerintah itu kan buat mengatasi kemacetan….).
Keluar dari pintu tol masuk kembali ke jalur lambat, 2 kendaraan aparat itu memperlambat kendaraannya entah kenapa, seorang penumpangnya yang berseragam menyempatkan diri menengok ke arah mobil kami yang melintas-menyalip mereka, rupanya ada perasaan kesal juga kalau kami meng-ekor-i mereka, tapi begitu melihat stiker nimbul yang dikeluarkan pihak Istana Presiden yang nempel di kaca depan mobil kami, niatan mereka untuk kesal mungkin marah, langsung diredam….. Hebat… juga ada mu’jizatnya ini stiker (dalam hatiku bergumam). Dan begitu juga kejadiannya di parkiran JCC, meskipun mobil yang kami bawa hanyalah sebuah mobil bak, tapi begitu tukang parkir melihat stiker Istana…. Merekapun mempersilahkan kami memarkir di deretan belakang bis-bisnya Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) yang sudah banyak bertengger di sana. Memang hari ini di JCC akan ada acara Presiden, tapi bukan acara resmi kepresidenan. Ini mah acara pribadinya Presiden dalam rangka launching buku buah tangannya.
Sekitar pukul 8 malam Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu Ani, didampingi Bapak Wakil Presiden Budiono dan istri, Bapak Try Sutrisno, Bapak Mohammad Yusuf Kalla, sejumlah pejabat tinggi negara, anggota DPR serta sejumlah kalangan dari berbagai profesi, dan para tamu undangan sudah memasuki Assembly Hall, JCC.
Acarapun dimulai….. 
Perhatian pengunjung tersedot ke arah depan, berawal dengan penampilan penyanyi Ebiet G Ade yang membawakan lagu ciptaanya “Elegi Esok Hari”.

  
Selanjutnya tampil di panggung, penyanyi cantik Lala Karmela yang membawakan lagu Malam Sunyi di Cipaganti, buah karya SBY, dengan diiringi dentingan gitar Tohpati.


Dalam pidato tertulisnya Presiden Direktur Kelompok Kompas/Gramedia, Jacob Oetama selaku Penerbit buku ini mengatakan buku ini bukanlah pembelaan diri atau apologi SBY, justru merupakan refleksi pribadi dan keinginan SBY untuk berbagai pengetahuan dan pengalaman.
”Kita sebagai bangsa Indonesia bisa berbangga hati karena setidaknya baru ada lima kepala negara atau kepala pemerintahan yang menulis sendiri bukunya, satu di antaranya presiden ke-6 RI ini. Di Indonesia sendiri ini yang pertama kali. Yang lainnya adalah Nelson Mandela, Luiz Inacio Lula da Silva, Ariel Sharon, dan Lee Myung-bak. Empat di antaranya dalam bentuk otobiografi, sementara buku SBY bukanlah otobiografi,” lanjutnya.


Buku ini ditulis sendiri oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dicicil selama satu tahun, disela-sela kesibukannya dalam memimpin negeri ini. Dengan iPadnya, SBY menulis buku itu di tengah tugas kenegaraan, di keheningan malam, di sejumlah kota, dalam perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri.


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato sambutannya mengungkapkan alasan memilih judul Selalu Ada Pilihan untuk bukunya, melalui judul itu, dia ingin menyampaikan jalan pikirannya.
"Saya berpandangan bahwa hidup ini adalah pilihan. Life is chosen," kata SBY. Dia mengatakan, setiap orang memiliki pilihan masing-masing untuk menentukan masa depan dan menjadi apa pun.
"Pendekatan dan cara apa untuk mengatasi permasalahan, itu juga pilihan. Sampai siapa yang paling tepat memimpin negeri ini ke depan, itu juga soal pilihan," ujar SBY. "Dan sebenarnya, puncak dari kebebasan adalah bebas untuk memilih."
Adapun buku ini bercerita mengenai pengalaman SBY menjadi presiden selama sembilan tahun terakhir. Menurut SBY, secara umum buku ini memuat cerita mengenai keadaan Indonesia saat ini. SBY mengajak masyarakat untuk sama-sama belajar tentang banyak peristiwa dalam kehidupan untuk dijadikan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Dia mengatakan, buku ini didedikasikan kepada siapa pun yang ingin membacanya.
"Apa pun profesinya, status, dan jabatannya, baik yang ada di tanah air maupun yang ada di mancanegara," kata SBY. Namun secara khusus, dia menambahkan, buku ini dia dedikasikan kepada para pecinta demokrasi dan para pemimpin Indonesia di masa mendatang agar lebih siap menghadapi tantangan, ujian dan cobaan dalam memimpin negeri ini.
Ditambahkan SBY buku ini diniatkan sebagai wahana untuk berbagi, bukan untuk menggurui, juga bukan untuk berteori.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berfoto dengan 20 orang penerima buku dalam acara peluncuran buku Selalu Ada Pilihan.

Diluar itu semua, saya tidak mau terlibat dalam perbincangan yang berbau politik, saya hanya mengungkapkan apa yang saya dengar dan rasakan. Karena saya tidak tahu pasti mana yang memang benar terjadi dan mana yang tidak, karena bagaimanapun seorang SBY adalah seorang manusia yang juga seorang politikus. Sedangkan saya adalah seorang manusia yang juga seorang rakyat lemah yang tidak tahu bahkan tidak mau tahu bagaimana keadaan politik di negeri ini dari tingkat yang paling atas sampai yang bawahnya. Yang kami harus tahu…. Bagaimana cara mencari rejeki yang halal untuk menafkahi anak dan bini di rumah. Itu saja, sederhana bukan?
Satu yang masih terngiang di kepala saya ialah slogan yang didengungkan bapak Presiden SBY pada acara itu: “Sekali Merdeka, Merdeka Sekali”. Kalau yang selama ini saya tahu slogan itu: “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka”. Apa maksudnya Pak….?
Tapi ah…, daripada bengong dan bingung memikirkan jawabannya, mendingan saya bantuan crew kami yang mulai bongkar-bongkar alat interpreter, karena acara sudah usai.
Hujan mulai mengguyur Jakarta, saat kami muatin barang-barang ke dalam mobil bak. Hujan-hujanan euy…..