*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Rabu, 25 Desember 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (6)

GALERI NASIONAL INDONESIA

Galeri Nasional Indonesia hadir sebagai sebuah lembaga museum (Art Museum) dan pusat kegiatan seni rupa yang resmi beroperasi sejak 8 Mei 1999. Berdiri di Koningsplein no.14, yang sekarang disebut Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, sebagai salah satu museum seni rupa di Indonesia yang memiliki sekitar 1750 koleksi karya-karya seni rupa. Galeri dibuka setiap hari Selasa-Minggu. Senin tutup. Untuk bertandang ke tempat ini pengunjung tidak dipungut biaya alias gratis.
Menurut sejarah, gedung ini awalnya adalah bangunan sekolah yang didirikan pada tahun 1902 oleh Yayasan Kristen Carpentier Alting Stiching (CAS). Meski awalnya sebagai sekolah, tapi gedung ini senantiasa berganti-ganti fungsi. Sempat menjadi asrama HBS wanita, lantas pernah dipakai pula sebagai markas pergerakan KAMI-KAPPI di akhir orde lama. Namun itupun tak berjalan lama, Brigade Infanteri I Jaya Sakti Kodam Jaya sempat pula bermarkas di gedung ini. Pada tahun 1981 bangunan berarsitektur kolonial Belanda ini diserahkan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk difungsikan sebagai Gedung Pameran Seni Rupa (kini Galeri Nasional Indonesia).
Kini karya-karya seni rupa kontemporer pun terlihat menghiasi halaman gedung. Salah satunya terdapat sebuah patung lelaki gondrong berkaos oblong dan bercelana jeans berdiri miring, seakan mencerminkan perilaku manusia urban kelas menengah bawah. Juga karya kontemporer modern serupa dua tangan terkait menjadi simbol keseimbangan di tengah halaman gedung.
Bagi anda yang berminat mampir di Galeri ini, naiklah kendaraan yang murah meriah, busway koridor 2, 2A, 2B, 7A, 7B turun di halte Gambir 2, tinggal jalan sedikit, melintasi stasiun Gambir dan menyeberangi jalan, sampailah kita.


PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM JAKARTA

Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah satu dari tiga wahana simulasi langit di Indonesia selain di Kutai, Kalimantan Timur, dan Surabaya, Jawa Timur. Planetarium tertua ini letaknya di Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No.73, Menteng, Jakarta Pusat. Planetarium Jakarta merupakan sarana wisata pendidikan yang dapat menyajikan pertunjukan / peragaan simulasi perbintangan atau benda-benda langit. Pengunjung diajak mengembara di jagat raya untuk memahami konsepsi tentang alam semesta melalui acara demi acara.
Planetarium Jakarta berdiri tahun 1964 diprakarsai Presiden Soekarno dan diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969. Di tempat ini juga tersedia ruang pameran benda- benda angkasa yang menyuguhkan berbagai foto serta keterangan lengkap dari berbagai bentuk galaksi,teori-teori pembentukan galaksi disertai pengenalan tokoh-tokoh di balik munculnya teori.
Di ruang pameran ini, ada juga pajangan baju antariksa yang digunakan mengarungi angkasa, termasuk mendarat di bulan. Beberapa peralatan lain untuk pengamatan antariksa turut dipamerkan.
Selain pertunjukan Teater Bintang dan multimedia / citra ganda, Planetarium & Observatorium Jakarta juga menyediakan sarana prasarana observasi benda-benda langit melalui peneropongan secara langsung, untuk menyaksikan fenomena / kejadian-kejadian alam lainnya, seperti gerhana bulan, gerhana matahari, komet dan lain-lain.
Jadwal Pertunjukan:
  • Selasa - Kamis : 09.30 - 10.30, 11.00 - 12.00, 13.30 - 14.30, dan 16.30 - 17.30
  • Jum'at : 9.30 - 10.30, 13.30 - 14.30 dan 16.30 - 17.30
  • Sabtu - Minggu : 10.00 - 11.00, 11.30 - 12.30, 13.00 - 14.00, dan 14.30 - 15.30
  • Senin dan Libur Nasional : Tutup.
Harga Tiket Masuk : Anak-anak Rp. 3,500.00 ; Dewasa Rp. 7,000.00
Untuk sampai ke Planetarium Jakarta, kita bisa naik busway yang melintasi halte Gambir, lalu disambung dengan naik bajaj, ojeg motor ataupun jalan, buat anda yang hobi berjalan menyusuri kota, boleh juga dengan jalan kaki cuman lumayan berkeringet juga.


MUSEUM ARTHA SUAKA

Perjalanan panjang sejarah Nusantara dari mulai zaman prasejarah, masa kerajaan atau kesultanan, masa pendudukan penjajah hingga masa paska kemerdekaan dapat kita pelajari salah satunya dengan meneliti bentuk uang sebagai alat pembayaran yang sah pada masanya.
Museum yang khusus mengkoleksi dokumen-dokumen keuangan, foto-foto dan lain-lain, adalah Museum Artha Suaka, museum milik Bank Indonesia yang terletak di kompleks Bank Indonesia, Jl. MH. Thamrin-Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Lantai 6 yang didirikan pada 21 Maret 1978.
Koleksi yang dimiliki, beberapa diantaranya merupakan koleksi menarik dan langka, Misalnya uang kampua yang terbuat dari kain, berasal dari kerajaan Buton di Sulawesi Selatan. Lalu uang yang ditulis dengan darah. Ada juga uang Krishnala yang terbuat dari emas, berasal dari kerajaan Janggala. Belum lagi uang-uang kuno dari kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Selain itu ada juga koleksi uang penerbitan khusus, misalnya uang logam khusus emisi 1970, uang logam khusus seri "Save the Children Fund" 1990, dan uang logam khusus seri "Cagar Alam" 1987.
Meskipun tujuan dari pendirian museum adalah untuk memperlihatkan sejarah perkembangan perbankan dan keuangan di Indonesia kepada khalayak, namun untuk mengunjungi museum ini tidak mudah, karena mesti minta izin terlebih dahulu (mungkin demi keamanan).
Jam buka museum: hari biasa (16.15-17.15), hari besar/libur : tutup. Pengunjung tidak dipungut biaya.

BENTARA BUDAYA

Bentara Budaya Jakarta yang berlokasi di Jln. Palmerah Selatan no.17, Jakarta Barat, didirikan untuk menampung dan mewakili wahana budaya bangsa dari berbagai kalangan, latar belakang dan cakrawala yang berbeda. Didirikan menyusul setelah Bentara Budaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 26 September 1982.
Bentara Budaya Jakarta memiliki bangunan tradisional Rumah Kudus yang indah sekaligus unik, mencerminkan keterampilan seniman tradisi yang tangguh berkarya dengan arsitektur khas Kudus, sebagai hasil akulturasi dari berbagai pengaruh seperti China, Hindu dan Jawa.
Hingga saat ini, Bentara Budaya Jakarta memiliki koleksi 573 lukisan buah karya pelukis-pelukis terkenal, diantaranya Affandi, S Sudjojono, Hendra Gunawan, Basoeki Abdullah, Bagong Kussudiardjo, Trubus Sudarsono, Rudolf Bonnet, H Widayat, Otto Jaya dan masih banyak lagi. Juga koleksi para pelukis Bali yang sudah dianggap klasik seperti I gusti Nyoman Lempad, I Ketut Regig, I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Anak Agung Gde Sobrat, Dewa Putu Bedil, I Gusti Made Togog, I Ketut Nama, I Wayan Jujul dan sebagainya.
Di samping lukisan juga dikoleksi 625 buah keramik dari dinasti China, yaitu Yuan, Tang, Sung, Ming dan Ching. Serta tak ketinggalan keramik lokal dari Singkawang, Bali, Plered, Trowulan, dan Cirebon. Koleksi patung yang ada berasal dari Papua dan Bali mencapai 400-an, sedangkan koleksi wayang golek yang terdiri dari berbagai macam karakter berjumlah 120-an. Mebel antik, seperti meja, kursi dan lemari serta beberapa patung Budha dengan berbagai posisi mudra pun menambah maraknya koleksi Bentara Budaya.
Bentara Budaya Yogyakarta dan Jakarta kini telah menjadi lembaga seni budaya nasional dan secara reguler mengadakan berbagai macam acara kesenian, seperti pameran dan pagelaran, putar film dan diskusi bulanan. Selain kegiatan seni, di Bentara Budaya Jakarta pun telah didirikan taman bacaan dengan berbagai koleksi buku penerbit Gramedia, buku seni, buku teks dari luar negeri serta buku sastra yang dihibahkan sastrawan Myra Sidharta.
Tidak hanya mempresentasikan budaya tanah air, Bentara Budaya Jakarta pun sering mengadakan kerja sama dengan lembaga seni lainnya dan menjadi tempat terselenggaranya acara seni budaya lintas negara.


MUSEUM KEHUTANAN MANGGALA WANABAKTI DAN MUSEUM RIMBAWAN PEJUANG
Museum ini terletak di dalam kompleks Kementerian Kehutanan, di samping kompleks Gedung MPR/DPR/DPD. Lokasi tepatnya di: Jl. Jend. Gatot Subroto, Blok VI, Lt.2, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Sesuai namanya, Museum Kehutanan Manggala Wanabakti bertema tentang kehutanan. Di dalam museum dapat ditemukan koleksi berupa berbagai jenis kayu yang dapat ditemukan di hutan-hutan di Indonesia. Dan dapat ditemukan pula berbagai jenis barang hasil dari kehutanan.
Koleksinya lainnya berupa foto-foto beserta penjelasan mengenai berbagai jenis dan tipe hutan yang ada di bumi Indonesia.
Satu lagi keunikan Museum Kehutanan Manggala Wanabakti adalah terdapat museum di dalam museum. Di lantai pertama, terdapat museum mini, yakni Museum Rimbawan Pejuang yang hanya memamerkan foto-foto para veteran pejuang serta kopian piagam penghargaan dan buku-buku mengenai pejuang itu.
Secara keseluruhan, Museum Kehutanan Manggala Winabakti cukup unik, karena mengkhususkan tentang kehutanan dan membawa masyarakat untuk lebih mengenal tentang kehutanan, tidak seperti museum umumnya yang mengoleksi benda-benda peninggalan sejarah atau budaya.
Museum ini dibuka pada hari Senin–Jumat, pukul 09.00–15.30. Masuknya tidak dipungut biaya.
Bila anda penggemar bus TransJakarta, bisa menggunakan Koridor 9, 9A dan turun di halte Slipi Petamburan, tinggal jalan kaki kurang lebih 15–20 menit jalan kaki dari Halte TransJakarta Slipi Petamburan.

Sabtu, 21 Desember 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (5)

MUSEUM TAMAN PRASASTI 


Museum Taman Prasasti adalah sebuah museum cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda yang berada di Jalan Tanah Abang No. 1, Petojo Selatan, Jakarta Pusat. Letaknya persis di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat sekarang. Museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno, patung, plakat, pot bunga serta miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia, beserta koleksi kereta jenazah antik. Museum seluas 1,2 ha ini merupakan museum terbuka yang menampilkan karya seni dan kecanggihan para pematung, pemahat dan sastrawan masa lampau. Semula Museum ini adalah pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, yang sudah penuh. Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti, nisan, dan makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu. Karena perkembangan kota, luas museum ini kini menyusut tinggal hanya 1,3 ha saja. Di museum ini dihimpun berbagai prasasti dari zaman Belanda dan sebelumnya serta makam beberapa tokoh Belanda, Inggris dan Indonesia atau Hindia Belanda seperti:
  • A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng)
  • Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda) 
  • J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh) 
  • Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura) 
  • Kapitan Jas, makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan. 
  • Miss Riboet, tokoh opera pada tahun 1930-an 
  • Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an 
Museum buka Selasa - Minggu dari pukul 09.00 - 15.00 WIB. Dengan tiket masuk Rp 2.000. Senin dan Hari Besar tutup. Untuk sampai di Museum bisa mempergunakan transportasi Busway Koridor 1, 2A, 3A dan 6A. berhenti di halte Monas. Dari situ tinggal jalan kaki atau naik ojek sekitar 500 meter. Atau jika kita datang dari arah Gajah Mada, bisa naik mikrolet 08 jurusan Tanah Abang-Kota, berhenti di Kantor Walikota Jakarta Pusat, tinggal jalan deh ke museum.


SASMITALOKA PAHLAWAN REVOLUSI JENDERAL AHMAD YANI 


Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, atau lengkapnya Museum Sasmita Loka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani, menempati tanah sudut di Jl. Lembang 58 dan Jl. Latuharhari 65, Menteng, Jakarta Pusat dengan bangunan bergaya arsitektur Indische. Museum dengan luas bangunannya 700 m2 ini dirancang untuk mengenang meninggalnya Jenderal Ahmad Yani juga untuk rekonstruksi pembunuhannya pada pagi buta (pukul 04.35) 1 Oktober 1965. Dibangun sekitar tahun 1930 - 1940an pada saat pengembangan wilayah Menteng dan Gondangdia, semula gedung ini dipergunakan sebagai rumah tinggal pejabat maskapai swasta Belanda/Eropa. Pada tahun 1950-an dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara, kemudian dihuni oleh Letjen Ahmad Yani sebagai perwira tinggi TNI AD dengan jabatan terakhir Menteri / Panglima Angkatan Darat RI sampai akhir hayatnya diculik dan dibunuh oleh Pasukan Cakrabirawa di rumah ini. Kondisi museum Sasmitaloka Ahmad Yani terlihat dijaga dan dirawat dengan baik, seperti keadaan terakhir saat peristiwa berdarah datang menyatroni rumah ini, pada pagi 1 Oktober 1965. Kaca pintu makan yang berlubang akibat ditembus peluru Pasukan Cakrabirawa dan bekas sambaran halilintar di sudut atas ruang tidur yang seolah menjadi pertanda bagi ibu A Yani pun masih dirawat keasliannya. Museum dibuka untuk umum Selasa s/d Minggu: 08.00 – 16.00 Tidak dipungut biaya, donasi ke penjaga secara sukarela. Akses ke Museum Sasmita Loka Ahmad Yani: angkutan umum yang melewati Jl. Latuharhari (jalan searah): S620 Blok M – Pasar Rumput; S66 Blok M – Manggarai; Angkutan umum yang lewat Jl. Diponegoro, turun di perempatan Jl. Lembang: AC08 Blok M – Pulo Gadung; AC11 Pulo Gadung – Grogol; AC16 Lebak Bulus – Rawamangun; AC61 Pulo Gadung – Ciledug; AC62 Senen – Cimone; P67 Blok M – Senen; R213 Grogol – Kampung Melayu; P18B Senen – Ciputat; P64 Pulogadung – Kalideres; P77 Senen – Cimone; R926 Blok M – Senen.


MUSEUM TEKSTILE 


Museum Cinta Tekstil atau biasa disingkat Museum Tekstil, adalah merupakan sebuah cagar budaya yang secara khusus mengumpulkan, mengawetkan serta memamerkan karya-karya seni yang berkaitan dengan pertekstilan Indonesia. Bertempat di Jalan Aipda K.S. Tubun No.4, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, museum ini secara resmi dibuka pada tanggal 28 Juli 1976 dan berdiri dengan menempati gedung tua sentuhan arsitektur Eropa di atas areal seluas 16.410 meter persegi. Pada mulanya gedung ini adalah rumah pribadi seorang warga keturunan Perancis yang hidup di abad ke-19. Kemudian dibeli oleh Konsul Turki bernama Abdul Aziz Al Musawi Al Katiri yang menetap di Indonesia. Selanjutnya tahun 1942 dijual kepada Dr. Karel Cristian Cruq. Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini menjadi Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan tahun 1947 dimiliki oleh Lie Sion Phin. Setelah beberapa kali beralih kepemilikan dan beralih fungsi, akhirnya pada tahun 1975, gedung ini diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dan dijadikan sebagai Museum Tekstil yang peresmiannya dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 28 Juni 1976. Sebagai sebuah museum tekstil terbesar di Indonesia, museum ini mempunyai koleksi-koleksi tekstil yang terhitung banyak, dan kebanyakan merupakan koleksi tekstil tradisional Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut dikelompokkan dalam empat bagian, yakni koleksi kain tenun, koleksi kain batik, koleksi peralatan, dan koleksi campuran. Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat menyaksikan aneka kain batik bermotif geometris sederhana hingga yang bermotif rumit, seperti batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Palembang, Madura, dan Riau. Diantara sederetan koleksi-koleksi itu, terdapat pula bendera Keraton Cirebon, sebuah peninggalan bersejarah dari tahun 1776 M. Di Taman Pewarna Alam seluas 2.000 m2 yang letaknya di halaman belakang museum, pengunjung dapat menyaksikan berbagai pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alami.. Keistimewaan lainnya dari museum ini adalah dilaksanakannya kursus membatik yang waktunya bersamaan dengan hari-hari bukanya museum. Museum Tekstil dibuka untuk umum Selasa - Minggu (09,00-15.00 WIB), kecuali hari Jumat (09.00—12.30). Senin dan Hari Besar tutup.


GEDUNG KESENIAN JAKARTA 


Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Belanda yang hingga sekarang masih berdiri kokoh di Jalan Gedung Kesenian No. 1 Jakarta Pusat, letaknya bersebelahan dengan Gedung Kantor Pos Besar Pasar Baru sekarang. Dengan bangunan bergaya neo-renaisance yang dibangun tahun 1821 di Weltevreden yang saat itu dikenal dengan nama Theater Schouwburg Weltevreden, juga disebut dengan Gedung Komedi, berfungsi sebagai gedung sarana bagi para seniman Nusantara untuk mempertunjukan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, sastra dll. Ide pendirian Gedung Kesenian Jakarta ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels dan direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814 dengan arsiteknya adalah Para perwira Jeni VOC, Mayor Schultze. Gedung ini pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda pertama (1926). Digedung ini pula Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) diresmikan oleh Presiden Pertama Ir. Soekarno (29 Agustus 1945). Lalu pada 1951 pernah dipakai oleh Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi & Hukum, dan sekitar tahun 1957-1961 dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Selanjutnya tahun 1968 dipakai menjadi bioskop “Diana” dan tahun 1969 Bioskop “City Theater”. Baru pada akhirnya pada tahun 1984 dikembalikan fungsinya sebagai Gedung Kesenian, dan setelah direnovasi pada tahun 1987 gedung ini resmi menggunakan nama Gedung Kesenian Jakarta. Untuk sampai di Gedung Kesenian Jakarta, anda dapat mempergunakan sarana angkutan Busway Koridor 5A, 7A, 8A.


MUSEUM PUSAKA/TOSAN AJI 

TOSAN AJI Kwitang 

MUSEUM PUSAKA TMII 

Dengan ciri khas, bangunan yang terdapat keris menjulang di bagian atapnya, Tosan Aji menjadi berkesan seram, penuh keheningan, bertabur sesajen dan keramat. Memang, begitu kita memasuki bangunan yang berbentuk limas terpancung itu, kita akan mengira benda-benda sakral yang ada di dalam akan memancarkan sinar yang menakutkan dan membawa aura yang menyeramkan. Namun, lama kelamaan setelah kita menikmati koleksi benda-benda itu dan menelaah asal usul serta proses pembuatannya, kita tidak lagi memandang benda-benda itu dari sudut padang klenik, malah pada akhirnya kita akan berdecak kagum setelah mengetahui nilai seni dan historis benda-benda itu. Museum yang berdiri di atas tanah seluas 3.800 m2 di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini diresmikan pada 20 April 1993 oleh Presiden RI Soeharto, memiliki koleksi sekitar 6.000 pusaka. 77% diantaranya adalah milik Alm. Tjio Wie Tay alias H. Masagung (1927-1990) yang dikumpulkan atas prakarsa sang istri, Hj. Sri Lestari, yang semula disimpan di gedung pameran Tosan Aji berlokasi di Jalan Kwitang no.13 Jakarta Pusat, yang kini gedung pameran itu tinggal kenangan, dan kemudian dihibahkan ke kepada Hj. Siti Hartinah Soeharto selaku ketua Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pengembangan TMII. Koleksi lainnya yang dimiliki gedung ini adalah berbagai macam pusaka tradisional dari semua provinsi di Nusantara. Salah satunya adalah pedang terpanjang di Indonesia yang pernah dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI). Pusaka ini berasal dari Banten, dibuat khusus untuk koleksi. Museum ini terletak di Taman Mini Indonesia Indah, Jl. Raya Taman Mini, Jakarta Timur. Buka tiap Selasa-Minggu (09.00-16.00 WIB) dan Senin tutup. Hanya dengan harga tiket Rp.2.000, anda dapat menyaksikan koleksi-koleksi pusaka dan menemukan pemahaman yang tepat terhadap benda-benda pusaka.

Untuk sampai di Museum Pusaka / Tosan Aji, kita dapat mempergunakan sarana angkutan umum busway Koridor 9 (Pluit - Pinang Ranti)

Jumat, 15 November 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (4)


MUSEUM NASIONAL


Museum Nasional atau Museum Gajah atau Gedung Arca, adalah sebuah museum yang terletak di Jakarta Pusat tepatnya di Jln. Merdeka Barat 12, diresmikan pada tahun 1868 oleh Persatuan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia, tapi secara institusi Museum ini lahir pada tahun 1778, saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda (sekarang Lembaga Kebudayaan Indonesia).
Museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara ini, hingga saat ini mengelola lebih dari 100.000  benda, yang dapat dikelompokkan dalam 7 jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismtik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi.
Patung Bhairawapatung dengan tinggi 414 cm adalah daya tarik utama museum ini. patung ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Buddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi.
Koleksi arca Buddha tertua di museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu disimpan dalam Ruang Perunggu dalam kotak kaca tersendiri. Sementara itu, arca Hindu tertua di Nusantara, yaitu Wisnu Cibuaya (sekitar abad ke-4 M) terletak di Ruang Arca Batu. Koleksi ini dipajang tanpa teks label dan terhalang oleh arca Ganesha dari Candi Banon.
Sedangkan koleksi lukisan yang terdapat di museum ini terdiri dari lukisan karya pelukis-pelukis Paris, antara lain; karya Kandensky, Zou Wuki, Georges Braque, Polk Lee yang terakhir dipamerkan tahun 1991 lalu.

Waktu kunjungan Museum: Selasa-Jum'at : 08.00 - 16.00; Sabtu-Minggu : 08.00 - 17.00; Senin dan hari besar nasional Tutup.
Harga tiket masuk, dewasa : Rp 5.000,- dan anak-anak : Rp 2.000,-
Untuk menuju ke lokasi Museum ini kita bisa menggunakan bus Trans Jakarta Koridor 1, 2A, 3A atau 6A dan berhenti di halte Monumen Nasional, atau dengan angkutan umum lainnya.


MONUMEN PROKLAMASI DAN PATUNG PROKLAMATOR SOEKARNO HATTA



Dihalaman rumah Soekarno (yang dikemudian hari menjadi Presiden RI pertama) Jl. Pegangsaan Timur no.56 Jakarta Pusat (sekarang Jl. Proklamasi) dibacakan untuk pertama kalinya naskah Proklamasi Kemerdekaan RI. Di lokasi ini kini berdiri Tugu Proklamasi atau Tugu petir untuk memperingati hari bersejarah proklamasi kemerdekaan RI. Pada kompleks Taman Proklamasi ini juga terdapat monumen dua patung Soekarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di antara dua patung proklamator ini terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.
Setelah era reformasi, selain menjadi tempat yang spesial untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI tiap tahunnya, lokasi ini pun menjadi tempat pilihan bagi berkumpulnya para demonstran untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya.
Lain halnya ketika sore menjelang. Pada hari-hari yang biasa, para penduduk yang tinggal tak jauh dari lingkungan taman ini kerap berkunjung ke Tugu Proklamasi untuk berbagai aktivitas. Tempat ini menjadi tempat favorit anak-anak bermain, arena berolahraga, tempat berkumpul dan bertemu, atau hanya untuk duduk-duduk saja menghabiskan sore hingga senja datang.
Untuk menuju lokasi, kita bisa naik Busway Koridor 4 dan 6B berhenti di halte Matraman dan disambung dengan jalan kaki, atau naik ojek atau bajaj.


MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI


Gedung berlantai dua bergaya Eropa Art Deco yang berlokasi di Myakodori no.1 (sekarang Jl. Imam Bonjol no.1 Jakarta Pusat), dibangun pada pertengahan 1920-an, menurut sejarahnya, awalnya adalah rumah yang digunakan konsul Inggris sampai tahun 1942, lalu menjadi kediaman duta besar Inggris (1950-1981), lalu dihuni oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda kepala Kaigun sampai tahun 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris. Dari 1961-1981 gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris. Pada tahun 1982 gedung ini digunakan sebagai kantor Perpustakaan Nasional.
Gedung yang menempati tanah seluas 3.914 meterpersegi ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia setelah terjadi peristiwa bersejarah pada 16-17 Agustus 1945, yakni dirumuskan dan ditandatanganinya naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan kita. Oleh karena itu pada tahun 1984, gedung ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Ruang pameran yang terdapat di Museum ini adalah sebagai berikut:
1. Ruang Pra-Proklamasi Naskah Proklamasi
2. Ruang Perumusan Naskah Proklamasi
3. Ruang Pengesahan/Penandatanganan Naskah Proklamasi
4. Ruang Pengetikan Teks Proklamasi

Jam Kunjungan:
Selasa - Kamis 08.00-16.00
Jumat 08.30-11.00; 13.00-16.00
Sabtu - Minggu 08.30-17.00
Hari Senin dan hari Libur Nasional tutup.

Tiket: Dewasa Rp 750 dan anak-anak Rp 250.


MUSEUM SEJARAH NASIONAL DAN MONUMEN NASIONAL


Museum ini adalah satu-satunya museum yang terletak 3 meter di bawah permukaan tanah, dibawah Tugu Monumen Nasional. Berukuran luas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang, dan lantainya secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.
Lebih lengkap baca di sini atau di sini.
Museum ini berlokasi di Jl. Silang Monas Jakarta Pusat. Untuk mencapai ke sana kita bisa berjalan kaki, atau naik kendaraan umum ataupun pribadi. Untuk Bus Trans Jakarta, bisa naik Koridor Koridor 1, 2, 2A, 2B, 3A, dan 6A.


MUSEUM SUMPAH PEMUDA


Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Museum ini adalah museum khusus yang memiliki koleksi foto dan benda-benda yang berhubungan dengan peristiwa Sumpah Pemuda serta kegiatan-kegiatan dalam pergerakan nasional kepemudaan. Di bangunan yang luasnya 460 meter persegi inilah Naskah Sumpah Pemuda untuk pertama kali dibacakan. Dan di gedung ini pernah tinggal beberapa tokoh pergerakan, seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil dan Assaat dt Moeda.
Gagasan mendirikan Museum Sumpah Pemuda berasal dari pelaku Kongres Pemuda Kedua (1972), yang kemudian diresmikan dengan nama Gedung Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 dan pada 20 Mei 1974 Gedung Sumpah Pemuda kembali diresmikan oleh Presiden RI, Soeharto.
Koleksi dari museum ini antara lain: foto2 kegiatan organisasi pemuda, bendera2 organisasi, replika biola WR. Supratman, patung2 dada tokoh pemuda, perlenkapan pandu, jaket angkatan 1966, kursi lukisan, diorama, monumen persatuan pemuda, dan perlengkapan yang berhubungan dengan kegiatan kongres pemuda.
Museum buka untuk umum, Selasa - Jumat (08.00 - 15.00), Sabtu dan Minggu (08.00 -14.00), Senin dan hari besar nasional tutup.
Untuk sampai di Museum ini, kita bisa memakai kendaraan umum busway koridor 5, 7A dan 7B ataupun kendaraan umum lain.

Kamis, 07 November 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (3)



Masih di wilayah Jakarta Pusat, kita bisa bertandang untuk berwisata sejarah di museum-museum:


MUSEUM ADAM MALIK

Museum Adam Malik adalah sebuah bangunan berlantai dua beraksitektur model rumah peninggalan Belanda dengan dindingnya dipenuhi jendela dan kaca. Berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter, terletak di jalan Diponegoro 29, Menteng, Jakarta Pusat. Dulunya adalah rumah kediaman bekas wakil presiden RI ke 3, Adam Malik. Setelah beliau wafat, pihak keluarga memutuskan menjadikan rumah ini sebagai museum. Dan peresmiannya dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto pada 5 September 1985 tepat setahun setelah Adam Malik wafat. Pengelolaan museum ini dipercayakan kepada Yayasan Adam Malik.
Pada masanya, Museum Adam Malik merupakan museum swasta terbesar di Jakarta. Museum itu memiliki beragam koleksi, yang bisa dibagi dalam 13 jenis. Yakni lukisan non-Cina, lukisan Cina, ikon Rusia, keramik, buku, senjata tradisional, patung batu dan logam, ukiran kayu, batu permata, emas, tekstil, kristal, dan fotografi.
Koleksi benda-benda arkeologis pun lumayan banyak. Diantaranya arca Ganesha, arca Bhima, benda prasejarah, arca Buddha Aksobhya, Lingga, Dewi Durga, dan Dewa Siwa. Koleksi yang dipandang adikarya adalah keramik Cina yang berasal dari Makassar dan situs Buni (Bekasi, Jawa Barat). Koleksi paling spektakuler adalah prasasti Sankhara yang diperkirakan berasal dari abad ke-8.
Sayang sekali tahun 2000-an yayasan mulai keteteran untuk biaya operasional museum, sedangkan kucuran dana bantuan pemerintah untuk museum sudah distop. Maka pada tahun 2006, museum resmi ditutup dan bangunan itu dijual kepada pengusaha Harry Tanoe.
Menjelang ditutup, pihak yayasan pernah menawarkan koleksi museum ini ke pemerintah. Namun tak ada respons positif. Akhirnya, koleksi museum mulai dijual ahli waris sedikit demi sedikit, ke toko barang antik, ke kolektor sampai ke tukang loak.


MUSEUM JOANG 45
 
Sebuah gedung tua yang berlokasi di Jl. Menteng Raya no.31, Menteng, Jakarta Pusat, dibangun oleh LC Schomper tahun 1939 sebagai hotel yang diberi nama "Hotel Schomper". Hotel itu pada masanya merupakan hotel termewah di Jakarta, sebagai tempat persinggahan sementara bagi para pejabat Belanda dan pejabat pribumi yang datang ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai markas Seidenbu atau Jawatan Propaganda Jepang dan namanya berubah menjadi Gedung Menteng 31. Sejak Juli 1942 dijadikan tempat pendidikan politik para pemuda Indonesia dengan pembicara diantaranya adalah Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo, dan Achmad Subarjo. Dan yang memperoleh pendidikan politik diantaranya adalah Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi dan beberapa lagi lainnya yang kemudian dikenal sebagai Pemoeda Menteng 31.
Gedung ini berubah nama lagi menjadi Museum Joang ’45 terjadi pada tanggal 19 Agustus 1974, yang peresmiannya dilakukan oleh, ketika itu, Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Ali Sadikin.
Koleksi yang dimiliki oleh Museum Joang '45 diantaranya: berbagai benda bersejarah yang pada waktu itu digunakan oleh para pejuang Indonesia seperti peralatan perang, pakaian, bendera kesatuan laskar-laskar atau pataka-pataka, foto-foto tokoh Pemuda, koleksi Patung Dada para pahlawan, Diorama dan lukisan perjuangan sekitar 1945-1950, bahkan juga koleksi mobil dinas REP 1 dan REP 2 yang pernah dipergunakan oleh Bung KARNO dan Bung HATTA sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Selain itu ada juga film dokumenter Perjuangan 45 yang merupakan Arsip Nasional.
Museum Joang 45 terbuka untuk umum dalam aktivitasnya, pengunjung dapat mendaftarkan diri untuk dapat terlibat dalam aktivitas museum, seperti: Penyuluhan Permuseuman, Pameran dan Diskusi, Partisipasi Jabodetabek dan Dalam Daerah, dll.
Museum JOANG ini buka setiap harinya sejak Hari Selasa hingga Minggu. Mulai Pukul 09.00 Wib – 15.00 Wib. Tiket Masuk Museum cukup murah yaitu: Dewasa Rp. 2.000,-; Anak-anak Rp.600,- dan Mahasiswa  Rp.1.000,-
Untuk sampai di Museum Joang 45, kita bisa naik Busway koridor 2, 2A atau 2B, berhenti di halte Gambir. Dari sana tinggal jalan menuju arah Cikini. Stasiun terdekat adalah stasiun Gondangdia.

 
MUSEUM KATEDRAL
 
Museum yang terletak di balkon utama Gereja Katedral di jalan Katedral No.7B, Pasar Baru. Sawah Besar, Jakarta Pusat ini, dulunya digunakan sebagai tempat paduan suara gereja. Diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris, dan diresmikan pada 28 April 1991.
Benda-benda bersejarah koleksi museum ini diantaranya: Alat-alat Ibadat, Kasula, Patung-patung, Buku-buku, Lukisan dan Foto, Ruang Duduk, berbagai benda seperti : Organ, Relikwi delapan Santo anggota Sarikat Yesus, Vandel, Kaleng Misi, Alat Mati Raga, dll.
Museum Buka setiap hari Senin, Rabu dan Jumat
Pukul 10.00 – 12.00 WIB
Untuk sampai di museum ini kita bisa menggunakan busway koridor 5A dan 7A.


MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL
 
Bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda ini dibangun pada 1899. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda dipergunakan sebagai Sekolah Dokter Djawa dan sekolah kedokteran bumiputera yang lebih dikenal dengan STOVIA. Pendidikan kedokteran ini lalu dipindahkan ke Jalan Salemba (sekarang FK UI), dan bangunan STOVIA ini dijadikan asrama dan sekolah pendidikan lainya, seperti Sekolah Asisten Apoteker, MULO dan AMS.
Pada 1942-1945 pemerintahan Jepang yang berkuasa memfungsikan gedung ini sebagai tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda.
Setelah masa Proklamasi Kemerdekaan gedung ini dimanfaatkan sebagai tempat hunian bagi  bekas tentara KNIL Belanda  yang berasal dari Ambon beserta keluarganya.
Gedung STOVIA menjadi menjadi saksi bisu lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan, yaitu Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo (Jong Java), Jong Minahasa, Jong Ambon, dan lain-lain. Dan di gedung ini juga beberapa tokoh seperti Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo dan R. Soetomo pernah menimba ilmu.
Pada 20 Mei 1974 Presiden Soeharto meresmikan penggunaan Gedung Eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah yang diberi nama “Gedung Kebangkitan Nasional”.
Didalam gedung yang bernuansa Eropa tersebut, kita akan menjumpai beberapa ruang yang menyimpan sejarah penting Boedi Oetomo, Ruang Peragaan Persidangan Pembelaan dr. H.F. Roll, ruang Stovia dan ruang Peragaan Kelas Kartini. Di ruang STOVIA Anda akan menyaksikan sejarah masuknya kedokteran di Indonesia di mana ruang tersebut menyimpan alat-alat kedokteran masa lampau.
Anda juga akan bisa melihat-lihat senjata perang masa penjajahan seperti meriam milik VOC dan bambu runcing. Kemudian, ada replika kapal Portugis, Kapal Kolonial Belanda, kapal tradisional Bugis Pinisi dari Sulawesi Selatan. Lalu ada Patung R. Soetomo, salah satu pendiri dan ketua pertama perkumpulan Boedi Oetomo, Patung Ki Hajar Dewantara, Patung Maria Josephine Catherine Maramis (Maria Walanda Maramis). Selain itu ada pula koleksi perabotan, jam dinding, lampu antik, genta, foto, diorama dan lukisan.
Lokasi Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, Jakarta Pusat
Karcis masuk Rp.2.000 per orang.
Buka: Selasa – Jumat (08.30 – 15.00), Sabtu – Minggu (08.00 – 14.00). Senin dan Hari Libur Nasional tutup.


MUSEUM MOHAMMAD HOESNI THAMRIN

Museum MH Thamrin, awalnya adalah bangunan milik seorang Belanda bernama Meneer De Has yang dibeli oleh Mohammad Hoesni Thamrin dan kemudian dihibahkan untuk kepentingan kaum pergerakan kepada organisasi PPPKI (Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) karenanya gedung ini sempat dikenal sebagai Gedung Pemufakatan Indonesia.
Museum Husni Thamrin merupakan salah satu museum di DKI Jakarta yang dikhususkan untuk mengenang jasa pahlawan nasional Mohammad Hoesni Thamrin, seorang tokoh masyarakat Betawi yang dengan gagah berani, jujur dan terbuka mensuarakan kepentingan rakyat pribumi di dalam rapat-rapat Dewan Kota Praja yang dihadiri oleh sebagian besar kaum penjajah (Belanda) pada saat itu.
Museum MH Thamrin merupakan bangunan berarsitektur khas Betawi yang terdiri dari satu lantai dengan patung MH Thamrin tepat berada di depan musium. Di dalam musium terdapat koleksi saksi sejarah yang pernah digunakan oleh MH Thamrin antara lain: Foto-foto reproduksi Thamrin waktu kecil dan foto-foto tentang kiprah perjuangan tokoh Betawi ini dalam pergerakan nasional Indonesia, Foto-foto reproduksi suasana kota Jakarta pada zaman itu, Replika rapat di rumah MH. Thamrin, Radio yang digunakan untuk mendengarkan siaran dari dalam dan luar negeri, Kaca rias, Sepeda ontel kuno yang pernah digunakan oleh MH Thamrin, Meja makan, Materai, Alat musik khas Betawi, Bale-bale tempat pembaringan terakhir jenazah MH Thamrin, Lemari pakaian, Kursi, Piring hias, Blangkon dan Buku-buku kepustakaan naskah yang berisi tentang MH Thamrin dan pidato-pidatonya Thamrin di Volksraad.
Koleksi museum yang tak kalah penting lagi adalah sebuah biola WR Soepratman dan teks konsep lagu Indonesia Raja terdiri dari 6 bait karangan WR Soepratman. Memang di gedung inilah WR Soepratman memperkenalkan lagu gubahannya pada setiap kesempatan pertemuan kaum pergerakan, yang kini lagu itu telah menjadi lagu Kebangsaan Indonesia. Kemudian ada pula perangko Muhammad Hoesni Thamrin (1894-1941) senilai 250 sen dan perangko Abdul Moeis senilai 200 sen.
Akses jalan menuju museum ini agak sulit, karena letaknya yang berada di perkampungan penduduk, di Jalan Kenari II nomor 15, Jakarta Pusat, dimana di pintu masuk dari arah jalan Kramat Raya kita harus menembus kepadatan Pasar Kenari sebagai pusat bisnis peralatan elektronik yang semakin berkembang yang seakan menutup jalan menuju museum, hanya dengan jalan kaki atau kendaraan kecil yang dapat melewatinya.
Waktu kunjungan musium adalah setiap hari selasa sampai hari minggu dari pukul 09:00 WIB sampai pukul 15:00 WIB sedangkan untuk hari Senin atau hari besar nasional tutup. Untuk harga tiket masuk Dewasa dikenakan biaya Rp 2.000, sedangkan Mahasiswa dikenakan biaya Rp 1.000,- dan pelajar atau anak-anak dikenakan biaya Rp. 600,-.
Transportasi menuju Museum: Mikrolet M-01, jurusan Kp. Melayu – Senen, PPD 916 jurusan Kp. Melayu – Tanah Abang atau Busway Koridor 5, 7A dan 7B.

Rabu, 30 Oktober 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (2)

Di Jakarta Pusat, terdapat lebih dari 20 museum yang tersebar di seluruh penjuru yang dapat Anda kunjungi. Kami cantumkan semua di sini baik museum-museum yang sering dikunjungi wisatawan baik luar maupun dalam negeri, sampai kepada museum-museum yang kurang terawat dan jarang sekali dikunjungi wisatawan. Saran kami kunjungilah, museum-museum itu maka akan terbukalah pandangan dan imajinasi kita untuk lebih bisa mencintai negeri ini. Ingat selalu pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Dalam pendengaran kami pun masih terngiang-ngiang ungkapan seorang Jenderal bintang satu Angkatan Darat yang pernah menjabat kepala Pusat Sejarah TNI, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai para pahlawannya”.
Mari kita telusuri perjuangan para pahlawan bangsa itu dari peninggalan-peninggalannya yang dapat kita saksikan di dalam museum-museum. Selanjutnya…..ayo kita berjalan-jalan lagi mengunjungi museum-museum itu….


MUSEUM ART MON DECOR


Bagi anda pencinta seni, khususnya seni lukis dan seni rupa, Museum Art Mon Decor yang berlokasi di jalan Rajawali Selatan Raya No. 3, Sawah Besar, Gunung Sahari, Jakarta Pusat bisa menjadi alternatif berwisata keluarga. Murah meriah, bahkan lebih murah lagi…. Karena pengunjung tidak dipungut biaya tiket ko…….
Museum berlantai tiga dengan desain bangunan modern khas perkotaan ini memiliki koleksi lukisan dan seni rupa hasil karya seniman Indonesia dari berbagai aliran, seperti Affandi, Sunaryo, Tisna Sanjaya, Heridono, Srihadi Soedarsono, Nyoman Nuarta, Anusapati dan yang lainnya.
Yang membuat museum ini berbeda dengan museum lainnya adalah adanya pergantian tema koleksi museum tiap 6 bulan sekali, sehingga pengunjungpun tidak akan bosan menyaksikan koleksi yang itu-itu saja. Selain itu koleksi nya juga ada yang diperjual belikan.
Untuk menuju lokasi museum yang berada di kawasan PRJ Kemayoran itu, Anda bisa naik busway yang melintasi daerah Gunung Sahari, yakni koridor: 5, 5A, 7B dan 12. Dari Gunung Sahari, tinggal disambung lagi dengan ojek speda motor, bajaj, atau taksi.
Museum buka hari Selasa-Sabtu (10.00-18.00 WIB), Minggu (10.00-16.00 WIB), Senin dan libur Nasional tutup.
Nah.... setelah dari museum Anda bisa mampir di PRJ Kemayoran...... kan sembari nyelam minum air, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui... atau pepatah apa lagi deh yang kira-kira seirama gituh....


MUSEUM GRAHA BHAKTI ANTARA
 

Bangunan yang berlokasi di kawasan Pasar Baru, tepatnya di Jln. Antara No. 61, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat ini dibangun pada awal abad 20, merupakan tempat bersejarah yang menjadi lokasi penyiaran pertama kalinya Proklamasi Kemerdekaan RI ke seluruh Nusantara bahkan sampai ke Australia dan San Fransisco di Amerika Serikat. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Adam Malik datang ke kantor DOMEI mendiktekan naskah Proklamasi yang baru saja dibacakan Bung Karno, tanpa menghiraukan izin dari sensor Jepang (Hondokan) seperti lazimnya, maka berita tadi oleh Pangulu Lubis dikirim ke bagian Radio dan menyelipkan diantara berita-berita lain. Markonis Soegiri bertugas mengawasi pelaksanaan tersiarnya teks Proklamasi tersebut dan pengirimannya dilaksanakan oleh Markonis Wua. Sekarang gedung ini digunakan sebagai Galeri Foto Jurnalistik ANTARA pada lantai dasar dan Museum ANTARA pada lantai atas.
Sebelum ditetapkan sebagai Museum, bangunan ini dulunya dikenal sebagai Kantor Yashima/Domei.
Buka setiap hari jam 10.00 sampai 17.00.
Untuk sampai di lokasi Anda bisa naik busway koridor 3, 5A, 7A, 8A yang melintasi Pasar Baru.


MUSEUM ANATOMI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA


Museum yang letaknya dalam kampus Universitas Indonesia ini menyimpan koleksi kadaver manusia, organ tubuh, janin, dan hewan mammalia dalam stoples berformalin. Hanya dibuka untuk umum pada saat dies natalis UI atau FKUI saja. Berlokasi di Jl. Salemba No.6, Jakarta Pusat.
Untuk sampai di lokasi museum, jika Anda mempergunakan busway, gunakan koridor 5, 7A dan 7B, berhenti persis di depan museum ini.


MUSEUM PURI BHAKTI RENATAMA / MUSEUM ISTANA KEPRESIDENAN R.I.


Sebuah Museum yang pertama berada dalam kompleks Istana Kepresidenan ini digagas oleh Ibu Tien Soeharto sejak 30 Maret 1971, dan pembangunannya ditugaskan kepada Ny. Herawati Diah dan Drs. Pangkoesmijoto. Pada 28 Agustus 1971, museum ini diresmikan bertepatan dengan kedatangan Ratu Juliana dari Belanda ke Indonesia.
Dalam museum ini terdapat beberapa ruang khusus, antara lain: Ruang Irian Jaya, Ruang Raden saleh, Ruang Barong, Ruang Tongkonan, Ruang Syangka, Ruang mancanegara, dan Ruang Wiwahabusana. Terdapat berbagai koleksi luisan karya-karya pelukis ternama Indonesia seperti Basuki Abdullah, Affandi, S. Sudjojono, Dullah, Fajar Sidik, dll. Terdapat pula berbagai benda seperti patung, keramik porselen, perak, perhiasan dan kain tenun tradisional. Salah satu koleksi lukisan yang paling penting, antara lain Penangkapan Diponegoro dan Berburu Singa karya Raden Saleh. Di museum ini disimpan hadiah serta cinderamata dari tamu-tamu negara.
Lokasi: Jl. Veteran No. 16 Jakarta Pusat.
Untuk tiba di lokasi, Anda bisa naik busway koridor 1, 3A, atau 6A, tapi karena museum ini ada di kompleks Istana Kepresidenan, maka tidak sembarang orang bisa masuk dan berkunjung ke sana.


MUSEUM SASMITALOKA JENDERAL BESAR DOKTOR A.H. NASUTION


Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat. Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.
Museum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah pada tanggal 29 Juli, 2008 sejak dimulainya renovasi rumah pribadi tersebut menjadi museum.
Di kediaman ini Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution telah menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negaranya.
Di tempat seluas 2.000 meter persegi ini pulalah pada tanggal 1 Oktober, 1965 telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuh beliau, namun hal ini gagal dilakukan. Dalam peristiwa tersebut, putri kedua beliau, Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.

Jumat, 25 Oktober 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM

Hallo sobat, masih dalam rangka memperkenalkan kota Jakarta, kota yang dulu hanyalah sebuah pemukiman di muara Sungai Ciliwung pada awal abad ke-16, dan kini sudah menjadi kota Metropolitan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Setelah kita berjalan-jalan ke Kota Tua Jakarta, lalu berkunjung ke Monumen Nasional beserta Museum Sejarah Nasional yang terletak di bawah Monumen Nasional itu, mari kita berjalan-jalan sambil bernostalgia lagi dengan mengunjungi museum-museum yang ada di Ibu Kota ini.

Kita mulai dari ujung Utara Kota, yakni Kepulauan Seribu, sebuah gugusan kepulauan di Teluk Jakarta.

MUSEUM PULAU ONRUST 



Diantara kesebelas pulau-pulau kecil berpenghuni di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, terdapatlah sebuah pulau yang bernama Onrust, letaknya berdekatan dengan Pulau Bidadari. Dulunya, pada jaman Belanda, pulau ini disebut Pulau Kapal karena pulau ini seringkali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Di pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda seperti bangunan-bangunan benteng, makam-makam bersejarah serta rumah-rumah bergaya Belanda dan salah satunya yang semula merupakan rumah dinas para dokter yang memeriksa para jemaah haji, kini dijadikan Museum Pulau Onrust.
Untuk menuju ke Pulau Onrust dapat dilakukan melalui pantai marina Ancol, menuju Pulau Bidadari dengan speedboat regular setiap hari. Jarak Pulau Onrust dengan Muara Angke dapat di tempuh dalam waktu 30 menit saja. Sedangkan kalau melalui pelabuhan Muara Kamal dapat dijangkau dengan menggunakan perahu Nelayan.

Buka : Senin-Sabtu pukul 09:00 - 16:00 Wib, hari Besar/libur pukul 09:00 - 17:00 Wib
Harga tiket : Anak Sekolah Rp 600, wisatawan mancanegara Rp 2.000, rombongan anak sekolah Rp 600, dewasa Rp 1.500, rombongan umum Rp 1.500

Sekarang kita ke Jakarta Utara, disana ada Museum Bahari.


MUSEUM BAHARI 

 
Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada masa pendudukan Belanda dulu, bangunan museum ini adalah gudang untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah, kopi, teh, tembaga, timah dan tekstil yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Bangunan yang berdiri persis di samping muara Ciliwung ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur. Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, satu unit berfungsi sebagai galangan kapal dan tiga unit lainnya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Luas tanah bangunan ini sekitar 9.000 meter persegi dan luas bangunannya mencapai 16 ribu meter persegi.



Pandangan luas dari Menara Syahbandar, di samping Museum Bahari. Museum Bahari terlihat di bagian kiri foto, sementara Pelabuhan Sunda Kelapa di bagian kanan. 

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai untuk menyimpan barang logistik tentara Dai Nippon. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.
Museum yang memiliki ciri arsitektur bangunannya terbuat dari kayu ini, menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Diantara puluhan model dan miniatur kapal yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dengan perlengkapan penunjang kegiatan pelayarannya, semisal Lancang Kuning (Riau), Jukung (Kalimantan), Phinisi Bugis (Sulawesi Selatan) Kora-kora (Maluku), Mayang (Jawa) dan Cadik Karere (Papua). Juga terdapat berbagai peralatan yang digunakan oleh pelaut di masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam. Museum ini juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia, foto-foto serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia - Amsterdam. Bangunan berlantai tiga yang didirikan tahun 1652 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ini terletak di Jalan Pasar Ikan 1 Penjaringan - Sunda Kelapa, Jakarta Utara, menghadap ke Teluk Jakarta.
Untuk menuju ke Museum Bahari, anda bisa start dari Taman Fatahillah, Kota Tua, dengan mengendarai sepeda ontel sewaan, berombongan dua atau tiga orang. Anda akan dipandu oleh pemilik sepeda yang menawarkan paket wisata sepeda yaitu Museum Wayang, Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid Keramat Luar Batang, Museum Bahari dan Menara “Miring” Syahbandar.
Selain bersepeda ria, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi, taksi atau transjakarta. Khusus untuk transjakarta, di koridor satu itu (rute Blok M-Kota), Anda bisa turun di halteu terakhir (Stasiun Kota) dari sini Anda harus nyambung naik Mikrolet, bajaj, sepeda ontel tadi atau berjalan kaki. Jarak dari Kota Tua ke Museum Bahari sekitar 2 Km.
Jam kunjung museum adalah 09.00 - 15.00 WIB, dari Selasa hingga Minggu. Pada hari libur sekolah, museum tetap dibuka. Cukup dengan membayar dua ribu rupiah saja sebagai tiket masuk, Anda sudah bisa bernostalgia ke jamannya Opa dan Oma Anda dulu, atau mungkin Anda mau berimajinasi menjadi seorang pengembara atau bajak laut yang mengarungi lautan luas dengan kapal-kapal yang kokoh?

Jumat, 19 Juli 2013

MONUMEN NASIONAL

Monumen Nasional atau yang lebih populer disebut Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan atas prakarsa Presiden Soekarno untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang. 
Tugu Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu: Frederich Silaban, R.M. Soedarsono dan Ir. Rooseno, dan mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 dengan penancapan pasak beton pertama seremonial itu dilakukan oleh Presiden Soekarno sendiri. Sedangkan peresmiannya dan pembukaan secara resmi untuk umum dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 12 Juli 1975. 

Bangunan Monumen 
Tugu Monas didirikan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, tepat di depan Istana Negara, di atas areal tanah seluas 80 hektar. Lokasinya yang sangat strategis karena di tengah kota dan dekat dengan stasiun Gambir, menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata warga ibukota dan sekitarnya bersama keluarga, karena disamping untuk ber-refreshing, menikmati udara segar dari rindangnya pepohonan di Taman Monas dan melihat keindahan kota Jakarta dari atas Tugu Monas, anak-anak pun mendapat pendidikan untuk lebih mengenal sejarah Indonesia dari relief yang mengelilingi Tugu beserta diorama-diorama yang terdapat di Museum bawah tanah, tepat di kaki Tugu Monas.

 

Bentuk Tugu Monas sangat unik, berbentuk batu obeliks setinggi 132 meter, terbuat dari marmer Italia yang berbentuk Lingga dan Yoni simbol kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang “alu” dan “lesung”, alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia, dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. 
Di bagian puncak Tugu terdapat cawan yang dimahkotai lidah api dari perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton yang dilapisi lembaran emas seberat 45 kg. Lidah api atau obor yang tingginya mencapai 17 meter berdiameter 6 meter dan terdiri dari 77 bagian lembaran yang disatukan itu melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan pada saat itu. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kg, dan ditambah lagi beratnya saat menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995. Lapisan emas itu, seberat 28 kg diantaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. 
Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, kita bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.
Pelataran puncak dapat menampung sekitar 50 orang, disana terdapat teropong untuk melihat panorama seluruh penjuru kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah tanpa asap kabut, di arah selatan kita dapat melihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat dan di arah utara membentang Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu-nya.
Karena kapasitas daya tampung Pelataran puncak itu sangat sedikit maka para pengunjung yang berada di dalamnya dibatasi waktu, kasihan semua pada ingin ngeliat Jakarta dari atas Monas……. Mana untuk kegiliran naik, masuk lift nya saja sudah harus ngantri lama…… pernah saya dulu bawa keluarga, pas hari libur main ke sana. Ngantri buat memasuki lift naik ke atas, mesti 2 jam…. Padahal di atas nya hanya dikasih waktu beberapa menit saja.
Tapi bagi yang sudah mendapat kesempatan ke atas, gak nyesel deh…. Pernah naik di bangunan kebanggaan kota Jakarta, juga kebanggaan Indonesia itu, seperti halnya naik Menara Eiffel bagi orang Paris dan Menara Burj bagi orang Dubai.

Pengunjung tengah mengamati kota Jakarta dengan teleskop. 

 
Satu sudut kota Jakarta, dilihat dari dalam pelataran cawan puncak. 

Di bagian bawah terdapat pelataran cawan seluas 45 x 45 m dengan ketinggian 17 meter diukur dari lantai dasar dan 8 meter dari lantai museum. Hal ini dimaksudkan sebagai catatan hari kemerdekaan republik Indonesia (17-8-45).
Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia.

Pintu masuk Monas 

Untuk dapat masuk ke bangunan Monas, Anda dapat melalui pintu masuk yang terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Lalu Anda akan melalui terowongan yang berada 3 meter di bawah taman dan jalan silang Monas, dan loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika Anda naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, Anda dapat berkeliling melihat-lihat relief Sejarah Perjuangan Indonesia; masuk ke dalam Museum Sejarah Nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung ke tengah menuju Ruang Kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.

Relief Sejarah Indonesia 

 
 

Di halaman sekeliling monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.

Museum Sejarah Nasional 

 
Megahnya Museum Sejarah Nasional Indonesia, dibawah Monumen Nasional. 

 
Para pengunjung terdiri dari para pelajar dan umum tengah melihat diorama-diorama. 

 
Salah satu diorama perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruangan dengan ukuran luas 80 x 80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Dalam ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Jika Anda ingin mengikuti kronologisnya sejarah bangsa ini secara runtut, mulailah dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.

Ruang Kemerdekaan 

 
Lambang negara Indonesia. 

 
Peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

 
Naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Dalam Museum Sejarah Nasional Indonesia, selain daripada diorama2 itu, terdapat Ruang Kemerdekaan yang berbentuk amphitheater yang dapat dicapai melalui tangga berputar dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara dinding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua itu sangat indah, dan akan membuat Anda takjub.
Kami undang Anda untuk berkunjung ke Monumen Nasional Indonesia.