*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Jumat, 25 Oktober 2013

BERNOSTALGIA DI MUSEUM

Hallo sobat, masih dalam rangka memperkenalkan kota Jakarta, kota yang dulu hanyalah sebuah pemukiman di muara Sungai Ciliwung pada awal abad ke-16, dan kini sudah menjadi kota Metropolitan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Setelah kita berjalan-jalan ke Kota Tua Jakarta, lalu berkunjung ke Monumen Nasional beserta Museum Sejarah Nasional yang terletak di bawah Monumen Nasional itu, mari kita berjalan-jalan sambil bernostalgia lagi dengan mengunjungi museum-museum yang ada di Ibu Kota ini.

Kita mulai dari ujung Utara Kota, yakni Kepulauan Seribu, sebuah gugusan kepulauan di Teluk Jakarta.

MUSEUM PULAU ONRUST 



Diantara kesebelas pulau-pulau kecil berpenghuni di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, terdapatlah sebuah pulau yang bernama Onrust, letaknya berdekatan dengan Pulau Bidadari. Dulunya, pada jaman Belanda, pulau ini disebut Pulau Kapal karena pulau ini seringkali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Di pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda seperti bangunan-bangunan benteng, makam-makam bersejarah serta rumah-rumah bergaya Belanda dan salah satunya yang semula merupakan rumah dinas para dokter yang memeriksa para jemaah haji, kini dijadikan Museum Pulau Onrust.
Untuk menuju ke Pulau Onrust dapat dilakukan melalui pantai marina Ancol, menuju Pulau Bidadari dengan speedboat regular setiap hari. Jarak Pulau Onrust dengan Muara Angke dapat di tempuh dalam waktu 30 menit saja. Sedangkan kalau melalui pelabuhan Muara Kamal dapat dijangkau dengan menggunakan perahu Nelayan.

Buka : Senin-Sabtu pukul 09:00 - 16:00 Wib, hari Besar/libur pukul 09:00 - 17:00 Wib
Harga tiket : Anak Sekolah Rp 600, wisatawan mancanegara Rp 2.000, rombongan anak sekolah Rp 600, dewasa Rp 1.500, rombongan umum Rp 1.500

Sekarang kita ke Jakarta Utara, disana ada Museum Bahari.


MUSEUM BAHARI 

 
Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada masa pendudukan Belanda dulu, bangunan museum ini adalah gudang untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah, kopi, teh, tembaga, timah dan tekstil yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Bangunan yang berdiri persis di samping muara Ciliwung ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur. Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, satu unit berfungsi sebagai galangan kapal dan tiga unit lainnya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Luas tanah bangunan ini sekitar 9.000 meter persegi dan luas bangunannya mencapai 16 ribu meter persegi.



Pandangan luas dari Menara Syahbandar, di samping Museum Bahari. Museum Bahari terlihat di bagian kiri foto, sementara Pelabuhan Sunda Kelapa di bagian kanan. 

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai untuk menyimpan barang logistik tentara Dai Nippon. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.
Museum yang memiliki ciri arsitektur bangunannya terbuat dari kayu ini, menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Diantara puluhan model dan miniatur kapal yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dengan perlengkapan penunjang kegiatan pelayarannya, semisal Lancang Kuning (Riau), Jukung (Kalimantan), Phinisi Bugis (Sulawesi Selatan) Kora-kora (Maluku), Mayang (Jawa) dan Cadik Karere (Papua). Juga terdapat berbagai peralatan yang digunakan oleh pelaut di masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam. Museum ini juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia, foto-foto serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia - Amsterdam. Bangunan berlantai tiga yang didirikan tahun 1652 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ini terletak di Jalan Pasar Ikan 1 Penjaringan - Sunda Kelapa, Jakarta Utara, menghadap ke Teluk Jakarta.
Untuk menuju ke Museum Bahari, anda bisa start dari Taman Fatahillah, Kota Tua, dengan mengendarai sepeda ontel sewaan, berombongan dua atau tiga orang. Anda akan dipandu oleh pemilik sepeda yang menawarkan paket wisata sepeda yaitu Museum Wayang, Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid Keramat Luar Batang, Museum Bahari dan Menara “Miring” Syahbandar.
Selain bersepeda ria, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi, taksi atau transjakarta. Khusus untuk transjakarta, di koridor satu itu (rute Blok M-Kota), Anda bisa turun di halteu terakhir (Stasiun Kota) dari sini Anda harus nyambung naik Mikrolet, bajaj, sepeda ontel tadi atau berjalan kaki. Jarak dari Kota Tua ke Museum Bahari sekitar 2 Km.
Jam kunjung museum adalah 09.00 - 15.00 WIB, dari Selasa hingga Minggu. Pada hari libur sekolah, museum tetap dibuka. Cukup dengan membayar dua ribu rupiah saja sebagai tiket masuk, Anda sudah bisa bernostalgia ke jamannya Opa dan Oma Anda dulu, atau mungkin Anda mau berimajinasi menjadi seorang pengembara atau bajak laut yang mengarungi lautan luas dengan kapal-kapal yang kokoh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar