*** BEST SOUND SYSTEM JAKARTA, Jl. Asembaris Raya F. Barat no.40A Kebonbaru Tebet, Jakarta Selatan (12830) Telp: 62.021.83705116 ***

Senin, 29 September 2014

BERNOSTALGIA DI MUSEUM (11)


MUSEUM PENCAK SILAT
Museum Pencak Silat, atau biasa juga disebut Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia, atau Padepokan Pencak Silat Indonesia (PnPSI) adalah padepokan berskala nasional dan internasional yang berdiri di atas lahan yang luasnya sekitar 5,2 hektar, berlokasi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di bagian luarnya, lebih tepatnya di depan Jalan Raya Taman Mini I Jakarta 13560 (Jakarta Timur), bersebelahan dengan Masjid At Tien. Padepokan yang luas total bangunannya sekitar 8.700 m2, dan luas total selasar-selasarnya sekitar 5.000 m2 ini secara resmi dibuka oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1997.
Gedung ini memiliki tiga lantai yang meliputi ruang perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang menarik serta museum di lantai 2 dan 3. Keduanya saling mendukung dengan berbagi informasi sesuai tema yang diusung museum tersebut, yakni pencak silat dan segala seluk beluk yang dikaitkan dengan kehidupan dan ragam budaya masyarakat Indonesia. Museum ini memberikan informasi perihal riwayat pencak silat, dimulai dari masa ketika manusia belum mengenal peradaban, zaman kerajaan, masa penjajahan Belanda, sampai perkembangannya di pasca-kemerdekaan. Melalui gambar-gambar dan keterangan yang menyertainya, kita bisa mengetahui lebih jauh tentang aliran atau gaya pencak silat dan pengembangannya.
Di ruang pamer sebelahnya dipajang benda-benda yang biasa dipakai dalam pencak silat, berupa senjata seperti tombak, keris, pisau, parang, badik, golok dan rencong. Senjata-senjata itu mewakili daerah-daerah di nusantara.
Dalam kompleks Padepokan Pencak Silat Indonesia terdapat 9 bangunan, yang masing-masing mempunyai nama sendiri, yakni: Pendopo Agung, Pondok Persilat, Pondok IPSI, Pondok Pustaka, Pondok Gedeh, Pondok Serbaguna, Pondok Penginapan, Pondok Meditasi dan Musholla.
Museum buka, dari hari Senin sampai Jum’at, pukul 09.00 – 15.00. Tarif masuk: Gratis alias tidak berbayar.

MUSEUM PURNA BHAKTI PERTIWI (MPBP)

Museum Purna Bhakti Pertiwi didirikan atas prakarsa Ibu Tien Soeharto, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghargaan yang tinggi atas dukungan masyarakat Indonesia dan manca negara kepada Bapak  Soeharto. Museum Purna Bhakti Pertiwi ini diresmikan pada tanggal 23 Agusutus 1993 oleh Presiden Republik Indonesia yang ke-2  H.M. Soeharto, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-70 Ibu Tien Soeharto. Luas bangunan museum 25.095 di atas tanah seluas 19,73 hektar. Museum Purna Bhakti Pertiwi menyimpan beraneka ragam koleksi yang sebagian besarnya adalah milik keluarga Pak Harto yang dirawat dan disimpan Ibu Tien Soeharto dan kemudian dikumpulkan dalam museum ini untuk dapat dinikmati oleh khalayak ramai. Memasuki bangunan yang arsitekturnya mirip nasi tumpeng atau gunungan (sebagai kelengkapan inti upacara tradisional) itu melambangkan rasa syukur, keselamatan dan keabadian, pengunjung disambut dua patung Panyembrama, patung selamat datang. Patung karya seniman Dewa Made Windia, terbuat dari lempengan uang kepeng dengan tinggi 240 sentimeter. Panyembrama adalah tarian Bali yang biasa diperagakan untuk penyambutan tamu-tamu terhormat.
Bangunan museum dikelompokkan dalam bangunan utama dan bangunan penunjang. Bangunan utama berfungsi sebagai ruang pamer benda-benda koleksi seluas 18.605 meter persegi terdiri enam lantai dengan tinggi 45 meter sampai puncak ornamen lidah api berwarna keemasan di atas kerucut terbesar, dikelilingi sembilan kerucut kecil.
Ruang Utama diapit empat tumpengan warna kuning. Ruang terdepan adalah Ruang Perjuangan, dikitari Ruang Khusus, Ruang Asthabrata, dan Ruang Perpustakaan. Ruang Perjuangan berbentuk kerucut berukuran sedang seluas 1.215 meter persegi terletak di bagian barat kelompok Ruangan Utama. Ruang Khusus seluas 567 meter persegi terletak di bagian utara. Ruang Asthabrata seluas 1.215 terletak di bagian timur. Dan, Ruang Perpustakaan seluas 567 meter persegi di bagian selatan.
Di Ruang Utama inilah tersimpan sebagian besar koleksi museum yang terdiri dari berbagai ragam cinderamata persembahan Tamu Negara RI, kenalan atau sahabat Presiden Soeharto dalam bentuk gerabah, keramik, porselin, wastra, gelas, kristal, logam dan batu.
Di Ruang perjuangan yang terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdapat ukiran dinding yang menceritakan riwayat kehidupan Bapak Soeharto dari lahir sampai beliau menjabat presiden. Lantai ke dua berisi koleksi foto-foto dokumenter, replika, satu bendera pusaka, pakaian militer, rompi anti peluru, dan lain-lain.
Di  tengah ruang terdapat ukiran-ukiran Rama dari pohon sawo kecik yang berasal dari Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur. Ukiran tersebut menceritakan kisah perjuangan Sri Rama dalam menumpas angkara murka. Makna dari kisah tersebut adalah kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan. Di Ruang khusus yang terdiri dari dua lantai, menyimpan tanda kehormatan yang dianugerahkan kepada Bapak Soeharto, baik dari pemerintah Republik Indonesia maupun luar negeri, misalnya Bintang RI Adipura I yang diberikan pemerintah RI (1968), Bintang Mahaputra Adipurna (1968), dan Bintang Gerilya (1965). Selain itu, Bapak Soeharto juga menerima penghargaan dari badan dunia “ The aviceno “ dari UNESCO, “ The Healt For All “ dari WHO, “ Global  Statesman  Award “ dari United Nation Population, “ Rice Importer  to Self Suffi ciency “ dari FAO UNDP. Selain itu, juga menerima penghargaan dari PBB “Helen Keller International“.
Di Ruang  asthabrata yang terdiri dari dua lantai, lantai pertama terdapat 8 besar kepemimpinan yang  dikenal “ Asthabrata “. Delapan asas kepemimpinan yang digambarkan melalui peraga wayang dengan lakon Wahyu Sri Makutha, Rama adalah delapan asas yang bersumber pada delapan sifat dan watak unsur dalam, yaitu bumi, angin, samudera, bulan, matahari, langit, api, dan bintang.
Pada lantai dua merupakan ruang pameran foto-foto Bapak Soeharto beserta keluarga dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, baik sebagai pemimpin negara, kepala keluarga maupun sebagai warga masyarakat.
Museum Purna Bhakti Pertiwi yang juga berfungsi sebagai wahana pendidikan mempunyai perpustakaan yang menyimpan 40.000 buah buku, majalah, dan album dalam berbagai ilmu pengetahuan. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang baca dan tempat majalah, sedangkan ruang ke dua berfungsi sebagai tempat menyimpan buku. Museum Purna Bhakti Pertiwi beralamat di Jalan Raya Taman Mini Pintu 1. Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, 13560
Karcis masuk Rp 2.000 untuk dewasa, dan Rp 1.000 untuk anak-anak
Buka Senin – Sabtu dari pukul 09.00 – 16.00, Minggu dari pukul 09.00 – 18.00.
Pengunjung diantar pulang-pergi oleh kendaraan “jeepney” tanpa dipungut biaya.



Museum–Museum Yang Berada di Area TAMAN MINI INDONESIA INDAH, Jakarta Timur

Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) merupakan kawasan wisata edukasi sekaligus rekreasi yang dibangun atas prakarsa Ibu Tien Soeharto. Sebagai wahana edukasi, terdapat belasan museum yang dibangun di dalam kawasan ini. Berikut di bawah ini ialah museum-museum yang berada di kawasan TMII. Lokasi : Kel. Setu, Kec. Cipayung, Jakarta Timur. Jam buka : Setiap hari, Jam 07.00 – 19.00. Tarif masuk : Rp 9.000.

MUSEUM ASMAT
Kekhasan Seni ukir Asmat yang mengagumkan tidak hanya di dalam negeri bahkan mancanegara, hal inilah yang menjadikan Ibu Tien Soeharto memberikan apresiasi dengan membangun Museum Asmat pada tanggal 20 Februari 1986 di area Taman Mini Indonesia Indah dan diresmikan pada tanggal 20 April 1986.
Menempati lahan Taman Bunga Keong Mas Museum Suku Asmat dibangun dengan luas 6.500 meter persegi. Bentuk bangunan museum merupakan model rumah Kariwari yakni rumah pemujaan suku Tobati Engross penduduk asli ditepi Danau Sentani, Papua. Bangunan Museum Asmat terdiri dari tiga bangunan utama dan 2 bangunan penghubung yang masing-masing berbentuk segi delapan. Atap berbentuk kerucut tiga setinggi 25 meter dengan bahan GRC yang permukaannya diberi daun rumbia. Pada bagian lain bangunan ini diberi ragam hiasan khas Asmat yang dominan warna merah, putih dan hitam.
Benda-benda koleksi museum berupa benda budaya yang mengandung nilai keperkasaan dan mencerminkan pandangan hidup orang Asmat yang senantiasa terkait dengan nenek moyang. Hal ini diwujudkan dengan ukiran di berbagai benda yang dipakai kesehariannya.
Selain pameran tetap, museum tersebut juga menyelenggarakan kegiatan secara berkala dengan tema-tema khusus seperti gelar lomba kreasi tari gerak Asmat dan lomba mewarnai gambar ragam hias suku Asmat
Untuk sampai di Museum Asmat, kita bisa menggunakan bus Transjakarta koridor 10 jurusan Tanjung Priok-Cililitan dan turun di Pusat Grosir Cililitan. Kemudian dilanjutkan dengan angkutan kota T02 berhenti di depan pintu masuk TMII. Jika naik Transjakarta koridor 9 jurusan Pinangranti-Pluit, maka bisa turun di dekat Tamini Square.
Jam buka museum : Setiap hari, Jam 08.00 - 16.00.
Tarif masuk : Rp 5.000 (satu paket dengan Taman Bunga Keong Emas).

MUSEUM FAUNA INDONESIA “KOMODO” DAN TAMAN REPTILIA
Museum Fauna Indonesia “Komodo” dan Taman Reptilia menampilkan pesona satwa langka dalam bentuk yang sudah diawetkan dan reptilia hidup. Arsitektur bangunannya berbentuk komodo, satwa yang hanya hidup di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, berdiri di atas lahan seluas 10.120 m² dengan luas bangunan 1.500 m² di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah.
Tema pameran adalah keanekaragaman satwa di Indonesia, dari barat sampai timur, dan dari pantai sampai pegunungan, ditata dalam dua lantai.
Koleksi lantai I berupa berjenis-jenis binatang mamalia dan reptilia lengkap dengan kondisi lingkungan alamnya. Jenis-jenis yang hampir mengalami kepunahan ditampilkan, antara lain harimau, gajah dan beruang. Di dalam vitrin-vitrin disajikan berbagai macam kupu-kupu yang terdapat di seluruh Indonesia; berjenis keong, kerang, kepiting, dan udang; serta binatang beruas, meliputi kaki seribu, laba-laba, dan kala jengking.
Koleksi lantai II berupa berjenis-jenis burung yang diopset dan ditata sesuai dengan habitatnya, meliputi yang hidup di laut, pantai, rawa, persawahan, lapangan, perkebunan, dasar rimba, hutan, dan pegunungan dengan daerah asal Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Taman Reptilia yang menghadirkan koleksi reptilia hidup dibangun di sekitar gedung museum pada tanggal 20 April 2001. Disini pengunjung dapat mengenali satu persatu satwa unik tersebut mulai dari komodo, biawak, kadal, ular berkaki, ular sanca, king kobra, penyu, kura-kura leher ular, kura-kura buaya, kodok, buaya, iguana dan binatang reptil lainnya. Anak-anak yang memiliki rasa keingintahuan lebih dan selalu ingin memegang dapat bebas memegang dan bercengkerama dengan ular sanca di Taman Sentuh.
Buka Senin - Minggu pukul 09.00 - 16.00 wib
Harga tiket masuk Rp. 10.000/orang.

MUSEUM INDONESIA
Dengan bangunan berasitektur khas Bali, museum ini menyajikan ragam budaya donesia dari Sabang sampai Merauke, berupa benda-benda seni, kerajinan, pakaian tradisional dan kontemporer dari berbagai suku bangsa, alat musik, upacara adat, dan lain-lain.
Pintu gerbang utama yang terdapat di sebelah selatan berupa sebuah candi kurung yang biasa disebut Padu Raksa atau Kari Agung, sedangkan di sebelah barat terdapat gerbang kedua yang disebut Candi Bentar (gerbang terbelah) khas Bali, demikian pula beberapa menara sudut menghiasi kompleks museum. Taman dan bangunan museum mengambil tema kisah Ramayana, misalnya jembatan menuju bangunan utama berbentuk ular Naga dan Wanara, pasukan kera yang membangun jembatan menuju Alengka.
Bangunan utama terdiri atas tiga lantai yang berdasarkan pada falsafah Bali Tri Hita Karana, konsep moral yang menekankan pada tiga aspek yang dapat membawa manusia kepada kebahagiaan sejati yakni; memelihara hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam dan lingkungan sekitar.
Lantai I, bertema "Bhineka Tunggal Ika" menampilkan pakaian adat/tradisional dan pakaian pengantin lengkap dari 27 provinsi, sesuai jumlah provinsi pada saat itu. Ruang pamer ini juga menampilkan berbagai kesenian khas Indonesia, seperti beraneka ragam wayang, dan gamelan, serta lukisan kaca bergambar peta Indonesia.
Lantai II, bertema manusia dan lingkungan, menampilkan miniatur rumah-rumah adat, bangunan peribadatan, lumbung padi, dan tata letak bangunan dan ruang tinggal masyarakat Indonesia. Disini dipamerkan pula peralatan mata pencaharian yang dipamerkan meliputi alat perikanan, alat berburu dan meramu, alat pertanian, serta upacara-upacara daur hidup (life circle rites) yang ditampilkan dalam bentuk diorama.
Lantai III, bertema seni dan kriya, menampilkan koleksi-koleksi tekstil meliputi songket, tenun dan batik; berbagai benda kerajinan dari bahan logam perak, kuningan dan tembaga; seni ukir dari bahan kayu gaya Jepara, Bali, Toraja, dan Asmat. Penempatan pohon hayat yang mengandung unsur udara, air, angin, tanah, dan api sekaligus menutup rangkaian cerita atas seluruh tema pameran secara keseluruhan.
Jam buka : Selasa – Minggu, Jam 09.00 – 17.00.
Tarif masuk : Rp 5.000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar